luka

Luka ini menelisik bilik yang kau rajai. Menulisi langitnya dengan senandung kenang yang meruam. Membiru. Mengancam kematian yang jelas merekam jejakmu meski dalam pejam. Mengundang mantra paling rahasia yang ditiupkan pada sepertigaNya. Enyah menuju antahberantah. Punah mengiring puting beliung mengelana angkasa.

Pada sisa tempias yang mengembun di jendela senja, kau menjadi bayang. Mungkin Tuhan ingin melihat senyum ikhlas bibir yang terkatup rapat dan mata yang senantiasa berkaca. Mungkin juga Tuhan tengah memunguti dosa dengan sayatan2 yang sengaja tak pernah kau rasa. Mungkin Tuhan tengah membangun istana di surga dengan bahasa cantik. Dengan irama cinta yang mengalun mesra. Di tiap detaknya.

Ah.. bukankah Tuhan selalu berkata indah? Titah angkasa adalah jalan surga. Tak perlu kau jejali hari dengan rintih perih. Tak usah kau kenangkan biru pada hitam yang tengah kubentang. Meski sakitku adalah senyummu. Meski sakitmu adalah senyummu. Izinkan aku merangkumNya dalam nalar manusiaku.

(antim_080210)

Iklan