nulis yukss…

Memulai menulis buku maka berarti adalah mengumpulkan dan membangun segenap ruh untuk menghidupkan buku yang akan ditulisnya.

Phhiuuuufffhh……!

Bukan perkara yang gampang memang. Tapi hal tersebut merupakan keniscayaan sebagai suatu konsekwensi moral, agar buku yang di tulis tidak menjadi hambar, atau bahasa sederhananya menjadi tidak berasa. Ibarat makanan meski memberikan efek kenyang, tapi bisa jadi sang konsumen tak lagi berfikir untuk kembali membeli makanan tersebut. Boro-boro merekomendasikan orang lain untuk membeli makanan yang sama, dia saja tidak bisa menikmati makanan tersebut. Ya, hanya berfungsi sebagai pengganjal perut saja. Tidak lebih. Sebab bisa jadi makanan tersebut kurang garam, kurang pedes dsb.

Mau nulis buku?

Gampang ko, tinggal cari ide, kumpulin bahan, bikin kerangkanya. Dan mulailah menulis..

Sesederhana itukah?

Jawabannya; yup! Tapi menjadi tidak sederhana jika berkaitan dengan tujuan kita menulis buku. Menjadi tidak sederhana ketika berkaitan dengan pertanggung jawaban atas apa yang telah kita tulis. Menjadi tidak sederhana ketika berurusan dengan keberkahan yang kita harapkan dari apa yang telah kita buat.

kaburamaktan ‘indallaahi antaquuluu maa laa taf’aluun” yang maksudnya kira-kira begini; sangatlah dibenci disisi Allah jika kamu mengatakan apa2 yang tidak kamu kerjakan.

Nah, itu dia…

Serem juga jika tersangkut ayat tersebut kan..??

Satu-satumya solusi adalah senantiasa berusaha mensinkronkan apa yang kita lakukan dengan apa yang kita tulis. Sebab hati hanya bisa di baca oleh hati. Demikian juga tulisan kita, pasti akan terasa bedanya jika ditulis dengan segenap ruh daripada ditulis karena dikejar deadline. (yohaaa… pengalaman pribadi 😀). Dan sangat besar kemungkinan hal itu akan berdampak pada orang yang membacanya. Harapan terbesar seorang penulis adalah jika apa yang ditulisnya disukai pembaca dan yang terpenting adalah mendatangkan manfaat untuk para pembacanya.

So, menurutku factor ruhiyah adalah hal yang paling penting dalam membuat sebuah  tulisan. Uhhmm… lebih beratnya lagi sebuah buku. Sebab jemari ini terasa kaku dan lidah ini terasa kelu (halah..!:P) untuk menuliskan apa-apa yang belum dilakukan atau belum rutin dilakukan atau bahkan sama sekali tidak dilakukan.

Ah, tapi yang jelas; learning by doing…

Mari kita mulai menulis dan senantiasa berusaha istiqomah menjalankan apa yang sudah kita katakan kepada orang lain. Jangan sampai kita tersandung ayat 3 dari Surat As Shaff  tersebut  🙂

*uhhmm.. curhatan H-16 menuju deadline.

“Rabb tuntun aku selalu…”

Semangaaaaaaat izz syahidah!!!! 🙂

pojok antim_15:33

medio febuari

Iklan