kuangeen ajah ^^

“teh bisa bantuin mukhayyam akhwat tgl 13-14 maret ini gak?”

Itu adalah sms dari akhwat di Santika. Ehhmm… rasanya baru kemarin aku bilang kepada seorang teman, aku kangen jalan kegunung. Pengen hujan2an dan sebangsa bangsanya  dan sekarang….

Ehhmm… Allah selalu begitu. Memberikan kejutan2 indah tak terduga.

Terimakasihku;

Alam selalu berbicara dengan bahasaNya. Itu yang menyebabkanku begitu mencintainya. Naik gunung, camping dan kegiatan2 sejenisnya adalah mimpiku sedari kecil. SD dan SMP keinginan itu tidak terfasilitasi tentunya, selain kegiatan pramuka yang acaranya standar itu2 aja. Apalagi SMU, Rohis yang kemudian memikatku makin membuatku jauh dari kegiatan2 lapangan. Aku lebih sibuk dengan kajian dan seminar2 keislaman. Sampai akhirnya kuliah dan aku berkenalan dengan aktivitas yang namanya mukhayyam. Sejak saat itu dimulailah persahabatanku dengan alam. Aku memilih untuk berkarir di Santika (halah..!! karir..??? :D). Menyenangkan sekali bergabung dengan Santika.

Santika; Barisan Putri Keadilan. Mengajariku memahami, berbagi dan merendahkan diri.

Memahami?

Rasanya aku harus benar2 meresapi kata2 ini ketika bergabung kedalam Santika. Coz sebelum bisa memahami, maka akan susah sekali kita mengaplikasi kata2 selanjutnya. Ikhlas, Amal, Jihad dst dst. (eiittss.. berat kalo ngebahas itu, ga kejangkau oleh ilmu saiyaaah heheh). Pertama, aku harus memahami bahwa aku sedang berada dalam lingkar jamaah, ada dalam sebuah teamwork, yang tentunya ada mekanisme syuro untuk memutuskan segala hal. Tidak boleh memutuskan sesuatu semau kita sendiri, apalagi kalo urusannya dengan lapangan. Sebab beraktivitas dilapangan adalah aktivitas yang paling rentan terhadap perubahan. Dan beraktivitas dilapangan akan semakin mengenalkan kita pada bermacam karakter orang. Tidak sekali track untuk outbond berubah beberapa saat sebelum acara, karena dirasa terlalu berat atau terlalu jauh. Atau juga ada panitia yang keukeuh nggak mau jaga di pos yang sudah di tentukan. Kalau sudah seperti ini, apa yang bisa kita buat selain melapangkan dada seluas2nya…..

Berbagi..

Wahh.. untuk hal yang satu ini mutlak harus di punyai oleh seorang petualang. Hhee.. ko jadi petualang yah? Berbagi tempat tidur, berbagi makanan, berbagi senyum meski sama2 cape, berbagi, dan berbagi dan berbagi. Pernah aku harus merelakan sepatu saat outbond, karena ada salah seorang peserta yang tiba2 sepatunya rusak di tengah jalan, kan kalo panitia bisa nyari jalan bener dan motong rute. Hal itu belum seberapa jika dibandingkan dengan sepasang sepatu yang direlakan seseorang kepadaku saat pendakian ke Manglayang. Karena ternyata sepatu yang kupakai tidak layak untuk medan yang licin dan berbatu. Bisa dibayangkan menuruni gunung Manglayang tanpa sepatu or sandal. Ketika sampai di bawah, yang ada tuh kaki lecet2 dan berdarah. (makasih ya ka, sepatunya. maaf ngrepotin heheh..)

Ukhuwah itu memberi, yup! Andai saja setiap orang berfikiran seperti itu…

Merendahkan diri?

Tentunya di hadapanNya. Ketika kita sudah berada di alam, yang ada hanyalah kita dan Dia. Meski maut bisa dating kapan saja, bahkan di atas ranjang sekalipun tapi alam membuatku semakin merasa dekat dengannya. Alam membuatku merasa sangatlah kecil.

Ehhmm… pengalaman pertama saat rafling menuruni jembatan cincin di Jatinangor. Tingginya lebih dari 25 m mungkin. Sama sekali gda rasa takut untuk mencobanya. Aku sempat turun dua kali. Yang pertama berjalan lancer, tapi yang kedua jilbabku kelibet tali, walhasil aku melayang layang hampir setengah jam di tengah2 tanpa ada yang menolong. Coz bala bantuannya ikhwan semua hhee… alhamdulillah dengan perjuangan jilbabku kutarik paksa, dan akhirnya aku berhasil turun.. Melihat sawah dari ketinggian dengan posisi yang tak wajar sempat membuat nyaliku ciut juga.

Pernah juga menyebrang sungai dengan tinggi air hampir setengah badan dan arus yang lumayan deras. Entah kenapa waktu itu aku merasa melayang, beberapa detik kemudian aku tersadar aku hampir terbawa arus. Semuanya sudah siap2 untuk menolongku, dan alhamdulillah aku berhasil meraih tangan salah seorang akhwat. Huufff……… gak kebayang jika benar2 terbawa arus.  Dan aku benar2 takut, Allah masih menolongku. J

Dan ini adalah ketakutan yang paling kubenci. Ehhmm.. mentang2 santika, rapatnya pake dikasih peta buta. Dan kita disuruh menggunakan teori navigasi untuk menemukan tempatnya. Sama sekali tak terbayangkan, kalo ternyata tempatnya adalah saung diatas gundukan2 perbukitan di Jatinangor. Yang pasti tingginya lebih dari rumah lantai 2. Dengan posisi kemiringan 45 derajat, diatas tanah merah yang berpasir pula. Tanpa ada pepohonan or tali sebagai alat penolong. Entah kenapa aku yang biasanya nggak pernah berfikiran takut untuk mencoba sesuatu, saat itu benar2 gemetar. Tepat saat kaki sampai ditengah2 kemiringan. Aku benar2 ketakutan. Turun nggak mungkin karena udah jauh. Naik juga masih cukup tinggi, mana tanah yang kupijak berasa longsor terus. Semuanya sudah sampai diatas pula. Perlahan-lahan kukumpulakan keberanianku, meski aku sudah terbayang jatuh. Mana orang2 yang lewat dibawah teriak2 nyuruh turun mulu.  *huuufff sama sekali bukan kebiasaanku trepenjara pada takut seperti ini* dan ternyata ketakutanku masih berlanjut pada phobi ketinggian. Hahahaayyy…. santika phobi ketinggian??? Heeeellllo…..???

Setelah itu masih ada tracking untuk acara mukhayyam yang menaiki salah satu bukit tinggi disumedang, dan aku terpaksa meringkuk sendiri di tengah jalan karena tak mau melanjutkan sampai puncak. Kusadari saat itu aku benar2 ketakutan. Puncaknya adalah saat aku harus manjat pohon untuk menjadi instruktur flying fox, tak seperti biasanya juga, ikhwan memasang instalasi itu tinggi sekali. Jauuuuhhh dari ukuran akhwat biasanya. Karena gak ada yang berani stay diatas, maka aku yang telah mengaku masih rada2 pobhi dengan ketinggian memberanikan diri. Naiknya mulus, tapi saat kaki kurang dari satu meter menginjak tanah, ternyata aku tak cermat, sehingga rok yang kupake nyangkut di tangga. Hmm… masih kebayang sakitnya saat itu. Gak bisa duduk, shalatpun sambil berbaring. Dan akhirnya harus liburan berkegiatan selama 2 minggu. Tapi alhamdulillah setelah periksa, tulang belakang di nyatakan baik2 saja.

Hmm… Allah maha baik;

Terimakasih untuk menjagaku selalu, dan memberikan orang2 baik disekitarku.

Masih banyak cerita cinta bersama santika. Saat aksi, saat hujan2an, survival dengan daun2an dan air mentah, semuanya seru, semuanya menyenangkan meski muka gosong, tulang berasa dilolosi, tapi ada mata yang senantiasa tersenyum, hati yang terus mengingatNya, dan tangan2 penolong dimana saja.

*kangenriweuhnyanyiapinoutbond*

(akhirnya bisa juga nulis bergaya kereta :D)

Iklan