warna BAHAGIA

“Karena tangan ini tak bisa mendefinisikan apa itu bahagia,Ta.
Sedangkan untuk sebuah luka, ia begitu piawai menggoreskannya. Tanpa kumintapun ia dengan ‘senang hati’ merangkai kata tentangnya.”

Sang Kelana menerawang, saat kutanya kenapa semua tulisannya berisi luka. Sedang tak sekalipun kudapati ia bermuram durja.

bukankah luka itu warna?
hitam pada kertas putih yang tengah kau tulisi
gumpal awan pada biru yang luas membentang
dan ruam pada kulit yang pualam?

sedangkan bahagia itu bening,
tak berwarna namun nyata kurasa
disini, Kelana menunjuk dadanya sendiri
disini, kali ini ia menunjuk bibirku sembari mengulum senyum

Layaknya kupu-kupu, yang semakin dikejar semakin menjauh.
Maka itulah bahagia. Tak perlu berlari mengejarnya.
Sebab ia (Ia) dekat saja.

tangan ini hanya ingin membuang luka yang ada,
dan memungut bahagia dari udara
serta menebarkan lewat atmosfernya

“Itu kenapa kau tak pernah mempublish semua tulisanmu?”
Ia tersenyum amat manis, mengiyakan.

Tugasku hanya menebar bahagia, Ta. Tidak lebih.
Dan setahuku Tuhan juga tak pernah berniat membuat hambaNya bersedih. Dia hanya ingin hambaNya lebih mulia.
Didalam luka maupun saat suka.

Kau lihat Ta, betapa langit akan begitu indah dengan awan yang berarak. Putih bersih dan tak jarang menghitam.
Kau juga tahu, kertas itu takkan berfungsi tanpa kau tulisi.
Dan gak akan tercipta obat jika tak kau temui ruam pada kulit yang pualam.

“Jika kau lihat indah, mengapa tertoreh kata luka dari tanganmu?”

Ahh.. aku hanya manusia,Ta.
Tak terhindar dari pedih yang menindih jiwa.
Dan aku hanya ingin menuliskannya diatas kertas, lalu membakarnya hingga menjadi abu dan menghirup wangi bahagianya.. ^_*

Setelahnya, aku akan kembali tersenyum.
Terbang mengepakkan sayap mengelana semesta dengan warna bahagia. Seperti yang kau lihat selama ini, Ta.

*rumahbahagia 9.57

karena kita bersyukur maka kita bahagia. Akupun demikian. Ingin bahagia pada laku, bukan sekedar kata.

Iklan