cinta ^^

 

“Jika tahu ‘kejelek2’nya tak mampu menyadarkan kita dari keterjebakan rasa.. apakah sebenarnya yang terjadi? Apakah jarring iman rapuh sangat?”

Itu adalah bunyi sms yang mampir di HPku 2 malam lalu. Namun karena kantuk sedari sore, maka tak sempat kutanggapi saat sms tersebut masuk sedang kelopak mata sudah terlanjur lekat.

Aku tak tahu persis apa maksud sms tersebut, dan tak bermaksud menanyakan kejelasannya sampai yang bersangkutan bercerita sendiri. Namun kalau boleh kutebak, pastilah tentang cinta. Hmm.. cinta, sampai kapanpun sepertinya rasa itu akan terus membayangi, sehingga Ia menghalalkan kita mempunyai dan merawat rasa itu dengan cara yang lebih agung.

Menurutku setidaknya ada dua solusi untuk orang yang jatuh cinta, menikah atau “memutus” rasa. Menikah tentulah jalan mulia yang memang sudah seharusnya dilakukan untuk menjaga kebersihan hati dan menjaga diri dari hal2 yang tak diinginkan. Adapun memutus rasa,  hmm.. tampak ekstrim sekali cara tersebut. Sebab masalah hati adalah masalah yang amat rumit. Dipaksa melupakan atau dipaksa memutuskan komunikasi adalah hal yang cukup sulit untuk orang-orang yang ‘terlanjur’ mempunyai rasa tersebut. Disini aku cukup realistis, tak mungkin kita menggebu atau bahkan langsung men judge kepada orang-orang yang tengah jatuh cinta.

Duluu sekali, aku pernah di tanya oleh seorang sahabat. Hm.. sedikit lupa redaksinya. Tapi intinya dia menanyakan apakah aku pernah jatuh cinta? Ketika kujawab dengan menyebutkan ciri-cirinya.—lupa juga apa yang kukatakan waktu itu ;d.  tapi dia menjawab, “berarti kau belum pernah jatuh cinta. Kau tahu, kalau orang jatuh cinta boleh memilih, maka ia memilih untuk tidak jatuh cinta.” Kalimat itu menyiratkan betapa ia tengah megalami derita cinta tersebut.

Jadi inget kalimat yang dulu sering kuulang-ulang sendiri. Bahwa cinta akan menemukan jalanNya sendiri. Ia akan mengalir sesuai fitrahnya, menyentuh hati-hati manusia dan akan bermuara padaNya. Suka tidak suka. Mau tidak mau. Takdir itu akan sempurna menyapa kita pada akhirnya. Maka jangan memaksakan cinta yang tak semestiNya. Dan (seharusnya) semua akan tunduk pada keimanan. Entah keimanan yang bagaimana, tentunya sesuai dengan kapasitas masing-masing. Wallahualam.

Lalu bagaimana solusinya? Tetap saja Dia adalah sebaik baik tempat bermuara. Buatlah titian indah ke Langit, maka pelan-pelan kau akan meninggalkan apa yang tak berguna di bumi. Lakukanlah hal-hal yang utama, maka yang sia-sia akan menghilang dengan sendirinya. Bukankah Ia menjanjikan cinta yang tanpa cela dan tak mengenal kecewa? Dan Ia menjanjikan pahala bagi cinta yang memang seharusnya. (baca: cinta yang dibangun setelah pernikahan), maka betapa terasa sia-sianya ‘memelihara’ rasa yang tak pada tempatnya.

Memang susah menghilangkan rasa yang sudah menempati keterlanjurannya. Oleh sebab itu mintalah tolong padaNya untuk mencabut rasa yang tak seharusnya. Izinkan  hati kita untuk berproses menuai ikhlas itu. Pelan saja, dan Allah akan melihat kesungguhan kita dalam proses tersebut. Karena Allah menyuguhkan berbagai cerita didalam kehidupan kita tentu bukan tanpa maksud. Ia ingin kita semakin dekat, baik dengan sesuatu yang kita anggap nikmat maupun sesuatu yang kita anggap ujian. Pun ketika Ia menghadiran seseorang di sekitar kita. hendaknya seseorang tersebut bisa menjadikan kita makin dekat dengan Allah, bukan malah membuat kita makin berat untuk beribadah dan enggan mengadukan segala padaNya.

Wallahualam

#sekadar mengingatkan diri

*sussaah nulis beginian ;d

 

Iklan