: eL

*tentang Kehilangan

: senja

Haruskah aku mewafatkanmu justru pada detik yang paling rindu. Sebab hujan tak lagi rikuh mencandai jenakku membersamaimu. Tak dapat lagi kini kunikmati siluet jingga yang pukau. Bersenggayut manja di ujung cakrawala.

Bukan, bukan aku membenci hujan. Kau tahu persis itu. Aku mencintainya, seperti kau yang tak pernah berhenti menanti hadirnya. Seperti kau yang tak pernah lelah bercerita tentang indah pelangi sesudahnya. Tentang rinai yang terasa amat menyejukkan dan tentang dentingdenting rindu yang seolah seirama dengan ritik yang jatuh membasahi bumi.

Haruskah aku menjadwalkan waktu untuk menziarahi hatimu justru saat aku merasa makin mengenalmu? Bahwa kau dan hujan adalah satu. Bahwa senyummu akan merekah sempurna sesaat setelah hujan reda. Dan matamu berkilat-kilat cahaya serupa kandil yang terayun di sebalik gelap. Ada pelangi, katamu. Aku suka biru, aku suka jingga, aah.. ak juga suka ungu. Aku suka paduan warna itu.

Aku dan kau samasama mencintai hujan. Sebab ia mengalamatkan doa pada Tuhan kita. Pun aku teramat mencintaimu, pada pinta-pinta yang tak pernah usai kusematkan. saat jiwa ini luruh, saat mulut ini tak letih mengadu. Tentangku, tentang kamu. tentang kita.

kebumen, 20 April 2011

Iklan