puLang

foto: sirius bintang

Matahari sore selalu indah di sini. Bulat penuh, seperti kuning telor. Yang berbeda hanya warnanya. Aku tak bisa mem-visualisasikannya dengan pas, tapi yang jelas ia seperti bola oranye. Tersemat  di kaki langit sebelah barat. Diantara genteng kemerahan dan bangunan gedung yang tak terlalu tinggi. Diantara kabel-kabel listrik yang tak beraturan jua pucuk daun yang bergoyang perlahan.

Sayang kau tak bisa melihatnya. Aku menatap matamu yang kecoklatan. Kau tersenyum, tepatnya memaksakan senyum. Bibirmu yang kering  tampak pecah-pecah akibat angin musim dingin. Tangan keriputmu gemetar, kisut termakan waktu. Diluar paviliun, deru hujan menyamarkan perbincangan kita.

“Pergilah,” bisikmu.

“Pulanglah kepada bait-bait yang merindukan jemarimu. Kembalilah kepada alam yang selalu bijak mengurai petuah tentang segala jejak.”

Aku terdiam. Darahku terasa lebih cepat mengalir. Ada yang manghangat di kedua mata. Kemudian pecah menjadi bebulir bening mengaliri pipi. Bibir ini tak henti mengulum senyum, memandangnya takzim. Entah berapa kubik sabar yang aku curi darinya, dan itu masih saja terasa kurang.

“Genggamlah Tuhan dimanapun kau jejakkan kaki. Ia sepenuhnya ada untukmu. Ia memberikan seutuh kebaikan yang bahkan sering kau abaikan, Ia ingin kau lebih mulia dengan segala skenario menyenangkan maupun yang  kau anggap memilukan.”

“Jagalah kehormatanmu, kehormatan agamamu.”

Terduduk. Kepalaku merunduk. Membenamkan rentetan kata itu kedalam palung hati. Memahatnya agar ia selamanya menjadi graviti. Berjanji, akan sebaik-baik mengejawantahkan kata yang memang seharusnya.

 aku mencintaimu, kini dan nanti.  disini, disana, hingga berkumpulnya kita di surga

aamiin.

pav. wijayakusuma 15.25

Jogja, 11.09.11

Iklan