Puisi Kenang Aku, Kau dan DIA

mushalla kita

“Tuhan telah membuka pintuNya, meski kita masuk dengan jalan yang berbeda. dan waktu adalah sekoci rindu paling laju, dia menggenangkan kenang, membiarkannya berlayar menuju rumah yang satu.cintaMu.”

/Prihatin Nurlatifah/

pada langgam paling manis aku menggeriap gundah. gelisah melirik angkaangka dalam almanak yang kian berjarak. menyelipkan liris rindu pada ritmis tirai hujan di kaca jendela. menyemat rimbun doa pada tiap patahannya. merapal satusatu nama cinta.

/Prita Yuniarti Ramayani/

akukah satu nama, Cinta? mengisi degup doamu pada bilah waktu yang taklagi utuh. masihkah tersimpan grafiti hati yang samasama kita pahatkan lebih dari sewindu lalu? duhai, mengenang simbiosis kita terasa begitu menenangkan.

/Diah Ferdiansyahadin/

andai detik dapat mengundang ruang paling lapang untuk sejenak bercengkerama. andai kita punya kereta di senja yang sama di gerbong yang utama. andai awal pagi bisa menghadirkan kembali teriakan anti kemapanan dan lecut semangat perjuangan melalui pitapita kaset yang mungkin saja kini telah kisut. aah, tahukah kau? hal paling bahagia saat bersama mengeja segala ceritaNya diselasar mushala kita.

/Marjulianawati Alinan/

menyusur lalu seperti mengipas bara yang takjua padam meski sebagiannya hampir menjadi abu. mengingat semua adalah menepikan sepi yang acapkali menelikung hari. menatap lengkap jejak janji kita adalah letup rasa untuk tetap setia menjadi bedindeNya. selamanya.

Purbalingga-Kebumen

27 Juli 2011

Iklan