pada sebelas

waktu tiba-tiba lumpuh, jeda yang disuguhkannya terasa lama. layaknya hujan yang bertandang malu-malu, ia belumjua beranjak. detak detik purnama menggariskannya dari celurit, sabit, berjingkat lambat hingga berpendar utuh tanpa ragu. tanpa malu.

tanpa ragu, iakah, Ta?

pada sebelas aku penuh berkaca. tentang ribuan jenak yang terlalu tersia. pada jejaknya yang terlanjur tergores di catatan harian Tuhan. pada ripuhnya hari yang bahkan terbata melafadzkan doa paling mantra.

lalu punya apa, aku, kamu, Ta?

semua masih ganjil, maka ia akan tergenapi dengan cahaya doadoa. dengan telimpuh paling riuh di setiap kala istimewa. ย bukankah masalah dan penyelesaiannya hanya ย sejarak kening pada sajadah? meski tentunya diiringi dengan gempita langkah yang takgoyah.

hingga kini, hanya ada satu tanyaku pada kamu, Ta. pada sebelas. sudah seberapa pantas?

-eL pada sebelas,-

Iklan