# FF

aku ingin hidup secerah mentari,

yang menyinar di taman hatiku,

aku ingin seriang kicauan burung,

yang terdengar di jendela kehidupan,

aku ingin segala-galanya damai,

penuh mesra, membuat ceria

aku ngin menghapus duka dan lara

melerai rindu di dalam dada

 

“Stop, Lin kumohon!”

Mentari memecahkan keheningan yang tercipta tiba-tiba saat nasyid Saujana tedengar dari laptop Lintang. Sejenak Lintang terkejut, berkerung dan kemudian tersenyum tipis.

“Kau masih mengingat luka itu, Mentari?” Lintang bertanya sembari masih konsentrasi didepan laptop. Menyelesaikan naskah yang harus diserahkan besok ke kantor. Mentari hanya terdiam, buliran bening tampak mengaliri kedua pipinya. Seingat Lintang ia baru menyaksikan akhwat itu menangis untuk kedua kalinya. Dulu, dua tahun yang lalu, saat tiap hari nasyid tersebut menemani hari-hari mereka mengerjakan skripsi dan sekarang.

“Apa itu penyebab kau tak pernah menerima tawaran ikhwan untuk berproses denganmu? kau masih mengingat peristiwa bertahun lalu?” Lintang mengubah posisi duduk dan menghadap Mentari yang menyandarkan kepalanya di tembok, ia memejamkan matanya. Air mata itu masih mengalir, meski tanpa suara. Tapi Lintang faham betul apa yang tengah dirasakan oleh sahabatnya tersebut. Ia sengaja membiarkan nasyid Saujana terus menemani mereka. Sudah saatnya sahabatnya tersebut sembuh dari traumanya.

“Nggak ada hubungannya antara nasyid itu dan prosesku, Lin. Sama sekali nggak ada. Kau juga tahu aku sudah pernah mencobanya, tapi ternyata takdir belum memihak pada kami. Kau bahkan tahu aku berusaha mengalihkan rasa sakit ini. Hanya kau yang tahu apa yang sebenarnya kurasakan.Aku hanya merasa sedih ingat saat-saat itu.”

“Ahaha! Iyalah, hampir sebulan kau nggak berani tidur sendirian kan? ngungsi kekamarku agar hatimu tak sakit.” Mentari masih tak bereaksi, meski Lintang dengan cuek meledeknya.

“Sampai sekarang saat menerima undangan dari teman rasanya masih aneh. Ada sedikit trauma. Lupakan tentang luka, lupakan tentang sakit hati. Aku hanya nggak suka cara mereka menepikanku, menepikan kita. Kenapa teman taklagi bintang, tapi ia pelangi yang hanya muncul sesekali.”

 “Apa pendapatmu tentang pelangi yang hadir di musim kemarau? Lalu kau terbuai oleh indahnya, bahkan tak bisa melupakan pesonanya hingga bertahun lamanya?” tiba-tiba Lintang berkata kepada Mentari, lalu membuang muka ke arah jendela.

“Masa lalu itu menjadi penting saat kita bisa mengambil ibrah darinya. Saat ia bisa menjadi spion yang memberikan tanda kepada kita saat berkendara di dunia. Hanya perlu ditengok sekali-sekali saja. Terlepas mereka yang akhirnya menikah entah dengan cara bagaimanapun itu, kita sudah tak berhak turut campur bukan?” Mentari berkata. Getir. Satire.

“Kau tahu sakitnya menawan hati dengan pesona pelangi yang hanya sekejap, Mentari? Tahukah kau saat mata, hati dan pikiran kita tak lagi sejalan? Tahukah kau rasanya saat ibadah tak lagi tenang hanya karena satu nama yang enggan lepas dari otak kita? Saat dunia terasa gelap hanya karena ia berpura-pura tak mengenal kita?” Emosi Lintang meledak tiba-tiba.

Mereka berdua berpelukan. Membincang masa lalu memang selalu menyulut emosi. Ada rasa yang serupa: sebuah ketertawanan. Apa yang lebih sakit selain tertawan pada rasa yang tak seharusnya? Benci atau bahkan cinta.

 

Soeta, 12/4/12

 

Iklan