cerita menulis

Gambar

Menulis sebuah pelarian? Iyakah? Menulis bagiku kebutuhan, dengannya aku bisa mengurai masalah dan sekaligus  menemukan solusi yang mungkin saja tersembunyi andai nggak segera diurai. Tapi ternyata di situlah titik awalnya. Ketika tiba-tiba aku sadar makin jarang menulis, maka ternyata aku sedang tidak mau mengurai banyak hal. Hmm.. dulu aku sering menyebutnya sebagai tanda futur.

Aku punya puluhan buku diari, yang dengannya hidup makin terasa lebih hidup. Dimanapun aku biasa menuliskannya, di forum rapat, mabit, bahkan di damripun aku pernah menulis diari. Itu kenapa aku lebih suka menggunakan buku tulis biasa sebagai diari khusus, yang tipis pula, hanya berisi 36 halaman. Merk SI*U. Biar cepet habis, cepet ganti halaman. Dan aku taksuka menggunakan bolpen untuk menulisinya, tapi pake spidol warna-warni dengan tulisan yang besar-besar. Eiya, sebenarnya ada alasan lebih utama siy, kenapa suka pake buku tulis biasa, soalnya aku termasuk orang yang sayang kertas-kertas bagus, jadi kalo ada buku bagus, malah kosong dan sayang untuk kutulisi. Ahaha

Mulai bikin blog 2009, dan itupun masih bingung harus nulis apa. Aku yang notabene introvert, susah untuk cerita di tempat umum, apalagi aku yang lebih cenderung suka menulis puisi, jadi makin susah bercerita. Aku termasuk punya banyak sahabat, temen deket yang kapanpun sebenarnya bisa saja aku bercerita. Tapi ternyata tidak demikian adanya. Meski sebenarnya aku suka cerita, tapi selalu dibungkus dengan kehebohan seorang sanguin yang tak tampak sedang curhat :p

Dan sekarang aku punya  4 akun blog, fb, twitter dengan segmennya masing-masing. Seneng juga siy, nulis di wepe begini. Sepi, gak keliatan siapa yang berkunjung, jadi terasa lebih tulus motivasi nulisnya. Tsaahh.. meski dengan 4 akun itu hanya 2 yang hidup, yang satu sama sekali gak kesentuh *males* dan yang satunya masih sesekali ditengok.

Tiap orang tentu punya cara bercerita masing-masing, aku lebih nyaman bercerita dengan puisi yang susah dimengerti, tapi jujur aku lebih suka membaca diari orang macam Mbak ini, Neng ini, Bapak ini meski aku amat suka dengan puisi-puisi aneh macam ini. Alhamdulillah, kini aku kerja di bidang yang memang kuingini sejak dulu, bahkan aku bisa buka blog tiap hari dan kutengok blog-blog yang asik dibaca seperti di atas. Yeeah, Blog Walking menjadi keasyikan sendiri buatku. Menyesap semangat dari cerita sederhana yang dituliskan orang-orang hebat. Silent rider mungkin tepatnya, karena aku takselalu komen seperti kalo di lapak sebelah yang memang kelihatan siapa saja yang berkunjung. hehe..

Hmm.. lalu kenapa aku punya banyak akun? Karena aku yang interovert, jadi punya segmen tulisan untuk masing-masing akun tersebut. Ahaha.. kadang aku kasihan aja sama pembaca yang membaca tulisan geje-ku. Karena apapun yang kita katakan pasti dipertanggung jawabkan kelak, karenanya banyak filter yang harus kita terapkan sebenarnya jika berhubungan dengan dunia maya begini. Minimal jangan bikin orang menyaksikan kita ngedumel, ngeluh atau menebar aura negatif kepada pembaca.

Ah, semoga saja apa yang kutuliskan ada hikmahnya, meski ia tersembunyi, terserak, tapi semoga masih bisa ditemukan. Masih ketemu.

Selamat siang, kawan. Hanya ingin menulis saja ^^

Soeta-26/4/12

*IMHO

Iklan