hari ke-17

hari ke-17.

tetiba surat itu menghentikan semua aktivitasku. seseorang membawakannya kemaren sore.

“Untuk Teteh,” katanya.

“Apa ini?”

“Buka aja,” lanjutnya.

“Tapi saya pulang dulu, Teh. Semoga Teteh berkenan,” ujarnya.

“Terima kasih,” jawabku masih dengan rasa penasaran ihwal surat tersebut.

aku terkesiap, membaca prolog surat tersebut. dia, ternyata. nggak ada geletar sedikitpun di hatiku. nggak ada sedikitpun ingatanku tentang dia dan peristiwa lalu. hm.. kubaca sekilas, memohon ampun padaNya.

Maafkan aku Rabbi, mungkin aku egois. mungkin aku takbisa melihat segala sesuatu dengan jernih. mungkin aku picik, mungkin aku, mungkin aku, mungkin aku.. ah ya, bukan mungkin tepatnya. tapi aku,

dan kini aku harus menghentikan sesuatu yang tak kuyakini membawa kebaikan, bukan? meski ada sedikit nyeri yang tak kutahu alasannya. ada kenikmatan yang tibatiba tercerabut paksa. aku tak suka itu. semoga setelah ini semua akan baikbaik saja.

lupakan ia, yang tak bisa mengajak kepada kebaikan. tinggalkan ia, yang meragu di tengah jalan menujuMu

Iklan