maaf #SebabPerjalananAdalahTeman -25

seringkali deret-deret huruf  itu hanya ada di otak. bergumul ia di sana. hingga terasa sesak dibuatnya. mungkin terlalu banyak se-pa-si hingga menyebabkan ruang kosong–ruang tunggu, menuju– atau juga titik dan koma yang takmungkin terbaca. takbisa, tentu saja. kecuali kalau digunakan sebagai penanda, kode, atau apalah itu yang tak kutahu.

lalu bagaimana membuatnya terurai, membait kata. berbaris dalam kalimat-kalimat indah. terbaca. termengerti. olehku, dan mungkin juga olehmu. olehNya? aaah, dia bahkan yang paling mengerti lintasan hatipun. saat belum terkata, terbait dalam lembar kertas putih. Ia paling mengerti.

“dan ternyata sebongkah rasa itu dengan semena-mena -mulai- menjajah jiwa. membuat bebaris kata selalu saja muntah seadanya. maaf.”

itu saja.

Soeta 550, 26/0/12

Iklan