waktu yang tepat untuk berpisah

kau tau, tak ada waktu yang tepat untuk berpisah?

perpisahan seberapa baikpun ia disiapkan selalunya menyisakan senyap. lengang pada sebagian jiwa, jua suwung yang menyergap semesta bilik dan daun pintu saat menyaksikan ia berangkat. perpisahan sepelan apapun ia berjingkat pastilah menggores nyeri kulit ari. mendapati ia pasti beranjak, semakin meneguhkan hati untuk bersiap menghadapi hal yang paling pasti.

maka menikmati lalu lalang orang menjadi hal yang membiasa. melempar sapa atau menanggapi tawa harus dimaknai sebagai cara paling tulus menyikapi sebuah waktu bersama. saling bergandengan dan membagi beban menjadi hal paling menyenangkan, mengundang senyuman. sebelum kemudian doa akan menjadi piranti paling ampuh untuk mengisi segala kebersamaan tanpa bersandingnya raga.

hingga hanya gumam lirih yang berusaha kuat memahat palung hati, “bukankah kita datang sendiri, dan kelak juga akan pergi dengan sendiri, maka mengapa harus takut bersendiri? bahkan berlebih merasakan duka saat harus menatap masa tanpanya.”

soeta 550, 14/11/12

Iklan