juni di januari

jam pasir

rupanya waktu telah melipat segala ceritera menjadi persegi

takbernama tawa tangis atau senandung liris hujan di penghujung hari

corengmoreng sedan habis terkikis tatap menancap tajam

merajam ulu hati

rindu yang terbakar di tungku telah memuai sedari dulu

hingga membatu ia menghitam menjelma bara yang taknyala

 

doadoa mengabut enggan menjemput benderang pagi

dua tembang tumbang pada cercah berkali hari

 

“selamat,”

 

jemari mungil itu kini menggapai-gapai sepenuh asa

bukan sisa. ia persembahan istimewa dari Sang Maha Segala.

 

soeta 550, 6/2/13

Iklan