kangen bapak

08052011146

matahari sore selalu indah di sini. bulat penuh, seperti kuning telor. yang berbeda hanya warnanya. aku takbisa mem-visualisasikannya dengan pas, tapi yang jelas ia seperti bola oranye. tersemat di kaki langit sebelah barat. di antara genteng kemerahan dan bangunan gedung yang tak terlalu tinggi. di antara kabel-kabel listrik yang tak beraturan jua pucuk daun yang bergoyang perlahan.
 
sayang kau takbisa melihatnya. aku menatap matamu yang kecokelatan. kau tersenyum, tepatnya memaksakan senyum. bibirmu yang kering  tampak pecahpecah akibat angin musim dingin. tangan keriputmu gemetar, kisut termakan waktu. di luar paviliun, deru hujan menyamarkan perbincangan kita.
 
“pergilah,” bisikmu.
 
“pulanglah kepada baitbait yang merindukan jemarimu. kembalilah kepada alam yang selalu bijak mengurai petuah tentang segala jejak.”
 
aku terdiam. darahku terasa lebih cepat mengalir. ada yang manghangat di kedua mata. kemudian pecah menjadi bebulir bening mengaliri pipi. bibir ini tak henti mengulum senyum, memandangnya takzim. entah berapa kubik sabar yang aku curi darinya, dan itu masih saja terasa kurang.
 
“genggamlah Tuhan di manapun kau jejakkan kaki. ia sepenuhnya ada untukmu. ia memberikan seutuh kebaikan yang bahkan sering kau abaikan, Ia ingin kau lebih mulia dengan segala skenario menyenangkan maupun yang kau anggap memilukan.”
 
“jagalah kehormatanmu, kehormatan agamamu.”
 
terduduk. kepalaku merunduk. membenamkan rentetan kata itu ke dalam palung hati. memahatnya agar ia selamanya menjadi graviti. berjanji, akan sebaik-baik mengejawantahkan kata yang memang seharusnya.
 
“aku mencintaimu, kini dan nanti. di sini, di sana, hingga berkumpulnya kita di surga.”
 
aamiin
 
pavilun wijayakusuma 15.25
jogja, 11.09.11

tulisan itu aku buat di paviliun wijayakusuma, hunian terakhirnya di jogja sebelum beberapa hari kemudian dibawa pulang ke rumah akibat kondisi bapak yang  makin parah. bahkan dokter pun sudah menyuruh kami pasrah dan mempersiapkan hal terbaik untuk mengantarnya menuju “kepulangan.” rasanya takterima dengan segala vonis yang disampaikan dokter. meski pada akhirnya aku dan segenap keluarga semakin menyadari, bahwa kanker ganas yang menggerogoti tubuh bapak hampir setahun ini semakin susah diajak kompromi. kompromi dengan kanker? andai itu bisa dilakukan.

aku hanya berusaha menerjemahkan jeda yang tercipta di antara kami. saat aku berpamitan untuk kembali ke bandung dan bekerja. sebelumnya bapak sempat berkata, “sudah saatnya kamu bekerja, setelah selama ini merawat bapak. tetap semangat. yang rajin, yah..”

bapak, sosok yang bahkan sampai sekarang masih kurasa hadirnya, meski hampir enam bulan taklagi bersanding raga. sosok yang aku hanya sanggup mengingat segala kebaikannya, segala sabarnya, segala ketegarannya. sosok yang aku takbisa merasakan kehilangan atasnya, seolah ia masih ada. tersenyum dan selalu memberi support kepadaku.

“gara-gara aku, semua jadi repot..”

aku masih ingat betul kalimat yang diucapkannya saat perjalanan ke jogja menjelang operasi terakhir kali. sungguh, takada perasaan repot dari kami sebagai anak dan segenap keluarga. bapak adalah seorang lakilaki matahari. takpernah habis senyum dan support-nya untuk kami. kesabarannya yang luar biasa membuat ia tak kelihatan seperti orang sakit kebanyakan. wajahnya tetap segar, candanya tak berubah. bahkan sebagai seorang penyandang kanker, ia termasuk jarang merasa kesakitan, padahal kanker yang dideritanya adalah kanker ganas.

“kok bapak kena kanker ya, tin? itu kan penyakit yang menakutkan, nggak pernah kebayang sebelumnya..” suatu kali bapak pernah berkata demikian. ada jeri yang kurasa di balik kalimatnya. tapi aku hanya tersenyum. dengan tenang aku berkata, “karena tidak semua orang sekuat bapak, bahkan bapak sama sekali tidak perlu dikasihani. bapak orang pilihan.”

“jadi masih bisa sembuh, tin?”

“masih, dan selalu ada kemungkinan. segalanya mudah bagi Allah, bukan?”

aku memang terbiasa ngobrol apapun dengan bapak. dan ia akan dengan mudah menerima apa yang aku -kami, anak-anaknya- katakan, meski kadang terasa menggurui. berkali-kali bapak bertanya demikian. aku tahu terkadang nyali bapak ciut juga mengingat penyakitnya, tapi hal tersebut justru semakin membuatnya giat untuk berobat.

semangatnya membuat kami harus mengeringkan air mata yang seringkali mengaliri pipi. aku serta kakak dan adikku bahkan berkomitmen untuk tak sekalipun menangis di depan bapak. kami hanya takingin bapak sedih karena menganggap diri menjadi sumber penyebab kesedihan kami. kami hanya ingin memberikan hal paling baik disaat bapak berada pada masamasa sulit. saat pertama kali vonis kanker ganas dijatuhkan, aku dan keluarga sudah mempersiapkan semua. ada beberapa dokter yang memang sudah menyerahkan kepada keluarga. bagaimanapun, aku terutama yang diamanahi untuk menungguinya selama sakit harus senantiasa tersenyum dan menyampaikan semuanya dengan ketenangan.

berawal dari sakit punggung yang tak berkesudahan, bapak akhirnya masuk rumah sakit swasta di kota kecil kami. saat itu bapak hanya didiagnosis syaraf kejepit biasa. namun setelah 3 bulan terapi, kondisi bapak tidak menjadi lebih baik. pinggang bapak makin sakit dan hasil ronsen terakhir menunjukkan syaraf kejepit akibat patah tulang sehingga harus dirujuk ke jogja untuk operasi.

ketika itu dunia terasa gelap, kakiku terasa melayang dan nafas sesak tiba-tiba. entah apa yang kurasakan, tapi yang jelas aku mulai ketakutan membayangkan kondisi bapak.

sebulan lebih di rumah sakit takpernah menjadi beban untuk bapak. banyaknya empati yang mengalir dari saudara merupakan rezeki tersendiri yang membuat kami taklelah tersenyum, bersyukur atas segala kebaikan-Nya yang terulur melalui tangantangan mereka. sungguh, uang puluhan juta yang digunakan untuk 3 kali operasi dalam jangka waktu sebulan begitu mudah terkumpul. aku yang takjeda menunggunya di rumah sakit menjadi saksi betapa ia adalah laki-laki yang gigih dan sabar. pelanpelan kusampaikan perihal penyakitnya. taklangsung menyebutnya sebagai kanker prostat ganas, aku hanya menyampaikan tindakan yang akan diambil dokter untuk mengangkat penyakitnya. bapak menurut, bahkan taksabar menunggu waktu operasi. ingin segera terbebas dari segala penyakit yang ada.

hal yang selalu kucatat, tak sekalipun keluhan keluar dari mulutnya ketika rasa sakit itu mulai menghampiri. hanya namanama Allah yang bergantian ia sebut. doa Nabi Yunus saat ada di dalam perut ikan senantiasa ia lantunkan, doa kesembuhan juga tak ketinggalan. bahkan saat kami memutar muratal, bapak menolaknya. Ia hanya ingin mendengar tilawah dari mulut kami langsung, anak-anaknya.

tepat setahun bapak mengalami proses pengguguran dosa, –semoga, sebelum kemudian benarbenar menutup mata pada 29 Oktober 2011 lalu. aku merasa biasa saja, mungkin karena pengaruh warning dokter tentang bapak atau entahlah. namun yang jelas aku merasa bapak takpernah pergi kemana-mana. aku hanya menggigit bibir saat melihat jenazahnya dipindah ke keranda, meneteskan air mata untuk terakhir kali di depannya. ya, saat ia sudah takbisa melihatku. mendoakannya dengan sangat, semoga segala kebaikan mengiringinya dan membuat terang rumahnya di sana.

“tin, kenapa yayu nangis?”
“yayu sedih karena bapak nggak mau makan.”
“ya udah tolong suapin bapak, tin. pelan-pelan takut muntah.”
“yu, udah jangan nangis lagi, ini bapak mau makan ko.”

lain hari

“kamu kenapa nangis?” kakak hanya terdiam sembari melihat makanan yang masih utuh.
“bapak harus gimana lagi? dari tadi kan udah dicoba makan, tapi muntah terus. udah yah, jangan nangis, ini bapak coba lagi.”

“Rabbighfirli walli wallidayya warhamhuma kamaa rabbayani shoghiro..”

****

di pelukan senja kau bisu melayangkan senyum ke angkasa.

di pelataran malam kau -mungkin aku juga kamu berpeluh mengejang menyambut rindu Sang Mahasatu.

di lapuk ranjang kau telah membebat tenang. lalu dimana entah aku dan kamu kan meregang?

(kangen, 1/4/12)

Iklan