tes #SebabPerjalananAdalahTeman -37

let_the_rain_by_1VioletStar9

2 oktober 2011

“Seneng yah, liat pasien satu demi satu pada pulang. Kita kapan, Tin? Ko rasanya berat banget ujian ini.” Ibu berguman sambil menerawang. Matanya tertuju ke arah beranda. Di sana tampak lalu lalang pasien dan dokter maupun suster yang tengah menjalani kesibukannya masing-masing.

Aku memandang seseorang yang makin hari makin terlihat lemah. Di matanya yang kecoklatan berkilat-kilat semangat untuk tetap bertahan. Akhir-akhir ini dia banyak menanyakan keberadaan kami, meski saat itu kami tengah bersamanya. Alhamdulillah tak pernah ada kalimat ngelantur, ngawur atau aneh yang keluar dari bibirnya. Tingkat kelupaannya masih wajar, menurutku. Itulah salah satu hal yang amat kusyukuri, mengingat sakitnya yang semakin parah. Bahkan ketika habis operasi dan dibius totalpun, dia masih saja tersenyum dan bertanya padaku ;

“njenengan siy sinten?”

“aku ini kenapa, ko gak bisa gerak?”

Perlahan aku berusaha mengembalikan ingatannya serta ‘memaksa’ untuk jamak shalat maghrib-isya, padahal kesadarannya masih belum seutuhnya pulih. Ah, titin.. orang masih kena bius begitu kau paksa shalat. Pantes di tengah-tengah shalat suka tertidur lagi.

“Ngesuk nek njenengan mari, numpak becak bareng. Kontrol karo mundhut duit pensiun ya, Pak..” terdengar suara ibu ngobrol sama Bapak.

 

**

“Pernahkah lelah sebab merasa ujian dari-Nya tak ada habisnya? Pernahkah mengeluhkan mengapa harus saya yang mengalami semua ini, bukan dia atau mereka?”

Setiap kita pasti pernah mengalami tes dari Allah. Meski terkadang soalnya sama, tapi kapasitas kitalah yang akan menentukan bagaimana cara menyelesaikannya. Sejatinya tak ada yang lebih ringan atau lebih berat dari apa yang menimpa diri kita masing-masing. Semua sudah sesuai dengan takaran Dzat yang Mahatahu. Bukankah Ia berfirman, tidak akan menimpakan sesuatu di luar kemampuan hamba-Nya?

Tak perlu menjadi orang paling menderita sedunia ketika mendapat kesedihan atau kesulitan. Tak perlu merasa iri dengan keadaan saudara yang nampak baikbaik saja. Yakinlah pada Sang pembuat skenario, bahwa luka itu, bahwa sedih itu, hadir untuk memberitahu betapa kuatnya kita. Yakinlah bahwa pasangan sejati dari air mata adalah senyum bahagia.

 

#NtMS 

Iklan