pulang #SebabPerjalananAdalahTeman –41

hujan

“dadi kowe ora bisa bali, Tin, sabtu minggu ngarep?” 

“mboten, pak, ngapunten. waktune mepet.” aku menjawab suara cadel dari seberang yang sebenarnya cukup sulit kuterjemahkan, beruntung kakak ada di sebelah Bapak, hingga ia bisa menjelaskan perkataan Bapak. saat itu, kamis, 27 Oktober 2011, dua hari sebelum Bapak sempurna menjemput kepulangannya sendiri.

pekan-pekan itu apa yang dikatakan Bapak memang sudah tak lagi bisa dimengerti. beliau memanggil nama-nama saudara kami yang diingatnya, beliau juga menanyakan kami yang bahkan saat itu ada di dekatnya. suatu kali Bapak pernah menanyakan, siapa yang ada di pintu, mempersilakan masuk, tersenyum dan bilang, “iya, sampai jumpa di surga, ya..”

Bapak melakukannya sambil dadah-dadah, seakan dia tengah berkata dengan seseorang. Bapak jarang sekali menggunakan bahasa Indonesia, tapi kali itu Bapak berkata dengan bahasa Indonesia. entah pada siapa.

di pekan-pekan itupula Bapak bersikeras untuk pulang. dia sendiri yang meminta kepada dokter agar mengizinkannya pulang. namun paru-paru yang sudah kerendem membuatnya takbisa bernafas dengan lega. Bapak meminta untuk diuap, dan sempat bilang lagi ke dokter besok mau pulang.

…akhirnya keinginan Bapak terpenuhi juga. Bapak benar-benar pulang, sesuai permintaannya pada kami. menginap semalam di rumah yang  telah dibangunnya semenjak aku berumur lima tahun, untuk kemudian tinggal di rumah barunya. entah sampai kapan..

bapak telah pulang, sebenar-benar pulang. setelah berjuang setahun mencari jalan untuk kembali, tugasnya purna sudah. kini ia beranjak pergi untuk pulang. ke rumah yang dibangunnya sejak pertama ia bisa membuka mata.

***

setiap orang mempunyai rumah untuk pulang. tempat dimana kenyamanan dan ketenangan serasa abadi. ruang untuknya tertawa maupun menyusut airmata. ranah untuk kembali menilik hati, membersihkan jelaga jiwa.

setiap kita selalu punya waktu untuk pulang, takmelulu mengunjungi bangunan berjendela sarat canda, tapi cukup berdiam di kala yang sepertiga. menyapa kenang, merapikan angan yang menggumpal tak beraturan. menjadikannya epik yang –semoga tercatatkan sebagai kebaikan.

pada saat-Nya, segala tentang kita akan berpulang. pada yang dahulu menghidupkan, pada yang akan mematikan. bukankah kita memang sedang menyusur jalan menuju-Nya? mencari cara terindah untuk bersiap menemui-Nya.

“lalu apa yang akan kita tinggalkan? apa yang sudah kita persiapkan?”

antim 24, 22.27

3/3/14

Iklan