tak kemana-mana

rain

: manusia di gerbong kereta

tenang saja, senja itu takkan tertelan gerbong kereta yang terlambat datang. berdiamlah, nikmati hujan yang bermandi matahari, maka akan kau dapati senyum pelangi.

kiranya sudah berapa banyak gerbong kereta yang kau naiki? asalkan setia menjadikan perjalanan sebagai teman, maka ia tak kemana-mana. Ia juga selalu menemani, yakin itu. takusah pedulikan jam pasir yang terus saja mengalir di dekat jendela kamarmu. toh kau takpernah tahu, kapan pasir-pasir itu habis berjatuhan, kapan kau harus berhenti melanjutkan petualangan, kapan kau terantuk batu, atau bahkan kapan kau akan tersenyum menggandeng jingga saat senja tiba. kau tak diberi bekalan apapun tentang semuanya, bukan?

tak kemana-mana, memang. tapi kau tahu Ia selalu memberi ponten istimewa pada setiap uang yang kau belanjakan untuk membeli tiket, pada receh yang kau sisakan bagi pengemis dan pengamen di jalanan, pada setiap degup jantung saat shubuhmu di kereta terlanjur kesiangan, juga pada setiap langkah kecil yang tertatih menyusur hari yang terkadang merah jambu, sesaat menjadi biru atau menjelma abu. 

takperlu berkali melirik tiket yang jelas-jelas tertulis namamu di sana. bukankah kau telah lolos petugas peron beberapa menit tadi? jangan lagi gelisah mengeluhkan kereta yang belum jua terlihat moncong gerbongnya. itu takkan mempercepat laju atau membuatnya tersesat di tengah jalan.

..kita sudah berada di pemberhentian ke sekian, melewati senja yang ke sekian, masih pantaskah mempertanyakan mengapa berawan dan kapan hujan? sementara ia bukan satusatunya perantara untuk terkabulnya doadoa. 

“dan hingga kini kita tetap manusia Januari, yang takpernah percaya begitusaja pada janji mei, meski kita samasama tahu, ia takpernah beranjak kemana-mana.”

Soeta 550, 14/5/14

 

Iklan