fragmen #SebabPerjalananAdalahTeman -42

rain

matahari garang seharian.

takada sepoi yang melenakan dua bolamata. hawa yang sedikit lembab, urung membuat sejuk di jiwa yang pongah. barangkali ada bara nyala di hati berkarat atau bisa jadi karbondioksida yang meniupkan dzon mengalir terlalu cepat pada selsel darah di seonggok daging yang keberatan. Juni yang seharusnya kering, masih saja mengundang hujan, menguarkan aroma petrichor berbalut rindu yang kelu.

“aku benar-benar sudah capek,” kulihat ada kabut di matamu.

“apa hanya dengan cara seperti ini Allah mengajariku mencintai-Nya?”

aku makin terdiam. memandang silau matahari yang dikelilingi bertumpuk awan putih. menyerah pada apa yang kau alami. menjadi semakin kerdil sebab Allah telah sebenar menguji ketangguhanmu. aku? masih bisa menghitung syukur yang terlantun dari bibir apatah lagi laku langkah setiap waktu.

hidup memang takpernah secara jelas membeberkan rahasianya. seringkali Ia hanya memberikan sedikit saja pengantar perjalanan, prolog agar kita lebih mawas menghadapi hari depan. dan Allah, Ia taksedang dzalim bukan? Ia taksedang menyulitkan, bahkan sejatinya Ia tengah memuliakan.

aku pernah mendengar, “jangan meminta agar diringankan beban, tapi mintalah agar senantiasa dikuatkan.” kau tentu takpernah lupa dengan kalimat bijak itu. bahkan aku sudah takpunya kata untuk sekadar menemanimu berceloteh dalam perjalanan. aku hanya punya senyum dan airmata kita yang mulai mengering.

“kapan aku bisa seneng-seneng, Tin? ah, lupakan pertanyaanku barusan.” kau buru-buru meralat ucapanmu sendiri. aku msih menunduk, taktau harus memberikan senyum, pelukan hangat atau sekedar tatapan empati. sebab aku takpunya apa-apa selain telinga, selain sekilas sapa saat aku pulang serta doa yang bahkan terkadang aku lupa. tiba-tiba teringat fragmen saat kita baru beranjak mengenal-Nya.

“aku diusir dari rumah, Tin. segala rupa jilbab dan baju panjangku akan dibakar, kalo aku tetep nekad menggunakannya. adikku kabur lagi dari rumah, Tin. ayahku pergi dan meninggalkan utang ratusan juta. ibuku.. mbahku.. budheku.. kakakku.. “

……………..

…….

“hidup adalah tentang Ia. Ia yang menghidupkan, Ia yang mematikan. sekejap saja terlepas dari-Nya, maka ucapkan selamat datang pada ‘kematian’ bahkan sebelum usia kita menyentuh kematian itu sendiri.”

teriring doa untuk seorang sahabat

soeta 550, 11/6/14

 

Iklan