surat buat bapak #kepadaSeptember

hujan2

I

apa kabar, pak?

semoga sehat selalu.. ah, terkadang lidah ini masih saja keseleo berharap kesehatan untukmu. bahkan aku masih saja terpikir untuk membelikanmu pakaian atau apa itu keperluanmu :D. iyah, aku lupa, kita telah berlainan rumah.

semoga rumahmu di sana lapang, penuh dengan cahaya.. πŸ™‚

dulu, hal yang paling membuatku sedih adalah menyadari engkau sepanjang hari hanya bisa tidur, nampak bengong, dan sering kami tinggal-tinggal meski pintu kamar selalu terbuka untukmu bisa melihat lalu lalang orang.

kesedihanku memuncak ketika tiba hari jumat, aku bisa merasakan betapa engkau sedih karena taklagi bisa ikut shalat jumat. persis setahun rutinitas menjadi khatib kau tinggalkan, persis setahun kau takpernah bisa lama pergi dari tempatmu berbaring.

dulu, betapa aku adalah anak yang suka sekali memaksa. memaksamu shalat dhuha, memaksamu shalat lail, memaksamu menahan sakit, memaksamu jangan mengeluh, memaksamu untuk selalu kuat, memaksamu, memaksamu, terus memaksamu tanpa mau tau keadaanmu.. maaf 😦 

aku takpeduli bagaimana engkau menahan sakit yang bahkan jarang sekali kau keluhkan. aku hanya ingin melihatmu kuat, tersenyum menghadapi semua. aku egois? iya, mungkin.Β 

pernah suatu kali kau kesakitan hebat, saat itu hanya ada aku dan kau di ruangan yang berpuluh-puluh kilometer jauhnya dari rumah. kau pegang tanganku kuat-kuat dan berkata, “melase kowe, Tin, dhewekan njagain bapak.”

kau tak berpikir tentang rasa sakit itu, tapi kau kasihan karena aku hanya sendirian. Allah.. πŸ˜₯

entah kenapa nafasku turut sesak, aku tak kuat berdiri atau duduk lama. kubiarkan kau yang kesakitan tanpa suara, aku memejamkan mata dan tertidur.Β 

lagi apa, pak? pertanyaan itu juga spontan sering kuucapkan. terima kasih terus membimbingku menjadi lebih baik, terima kasih mengingatku untuk terus berusaha istiqamah meski tak sepatah katapun kau ucapkan kini. namun, satu-satunya jalan untuk membantumu bukankah hanya dengan mendoakanmu, hanya dengan mengamalkan apa yang pernah kau ajarkan kepadaku?

iya, saat lelah. aku ingin mengingat bahwa aku harus menjadi anak shalehah agar doaku didengar-Nya. aku ingin mengingat bahwa kelak untuk mendapat doa dari anak yang shaleh shalehah, aku harus istiqamah. belajar untuk lebih baik dan lebih baik lagi.

ini hari pertama di bulan september, pak. tepat sebulan setelah hari kelahiranmu. dan menuju seribu hari kami tanpamu. semoga kau baik-baik saja di sana. :’)

β€œ..karena akhirnya semua akan tibaΒ pada suatu hari yang biasa,Β pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui”

aku tak tengah meratapi kepergianmu, aku hanya ingin menuliskan tentang segala kebaikanmu dan ingin mengingat, bahwa hari itu pun akan menyapa. aku –kami takpantas menangisi kepergianmu, sebab seharusnya kami menangisi dosa-dosa kami yang masih menggunung dan taklalai mempersiapkan jalan indah saat tiba-tiba harus menghadap-Nya.

luv u, pak.. rumah sudah semakin rame kini. dulu bapak menangis karena merasa tidak akan melihat syahim besar, mb nikah, juga titin. sekarang syahim udah punya adik, juga sudah ada shafa, putri mba. tenang, Allah sebaikbaik penjaga dan penolong :’)

seperti ucapanmu dahulu, “sampai jumpa di surga..” semoga Allah benar-benar mengumpulkan kita semua di surga-Nya yang indah. :’)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Β 

antim 24, menuju seribu hari tanpamu. kangen pak ;’)

1/9/14

Iklan