dialog hujan

 rain-1
febuari, 2010
I
biarkan hujan sore ini membasahiku, pintamu. 
sebab dengannya aku bisa mengartikan rindu.

hujanku untukmu, begitupula doaku..

II
aku baru sadar, aku sengaja tak punya jas hujan
semua atas nama ritual berbalut kenikmatan,
supaya aku punya alasan untuk berteduh,
lalu memandang hujan dalam diam.
apa yang sedang kau lakukan,
wahai penyair hujan?
adakah sunyi yang kau cari,
pada suara hujan yang jatuh di atap rumahmu 
yang asri?
adakah sunyi yang kau cari,
dalam sesapan teh hangatmu yang tak berteman?
adakah sunyi yang kau cari?
III
kenapa harus diamdiam
mari rayakan riuh sunyi bersama patahan hujan
sebab ia akan menutupi kaca kita yang mulai retak
biarkan saja teh hangat itu tak berteman
beranjaklah kau dari sudut mangu
berpeluk kita nanti hangat mentari

tersenyumlah wahai kelana jiwa; Tuhan mencintaimu lebih dari yang kau perlu



19.18, desember 2014, diantara gerimis yang menderas

bukankah sunyiku dan sunyimu serupa? 
ia menjelma kekasih bagi segala kata dan doa, 
bagi tawa dan air mata.

bukankah riuhku dan riuhmu juga serupa?
tergelak merasakan tampias menampar sejuk kulit yang
terlanjur memutih pucat.

pada mereka mungkin kita paling berterima kasih,
sebab dengan cara paling romantis telah
menghangatkan jiwa bersama ruah pinta tentang
indah surga



percakapan kecil dengan eva kelana, febuari 2010
hujan di antim 24,
21/12/14
Iklan