tentang ibu #SebabPerjalananAdalahTeman –53

tumblr_mr5d2cHXbW1senm9eo1_500

“kamu pernah nggak, pulang dengan alasan pengen ketemu ibu?” pertanyaan dari seorang sahabat itu menampar-nampar pipiku. `

“jadi selama ini aku pulang buat apa?” ujarku

“buat nikahan sepupu, buat ini, itu..”

pertanyaan sangat sederhana itu benar-benar mengacau konsentrasiku. tiba-tiba terlintas segala interaksi aku dan ibu, aku dan saudara serta keluarga di rumah. dan benar, selama ini aku pulang –yang meski rutin dua atau tiga bulan memang untuk beberapa keperluan, tak semata liburan menuntaskan kerinduan.

lalu salahkah?

entahlah, tapi kami memang keluarga yang takterbiasa mengungkapkan segala rasa dengan kata. jarang sekali terucap, “kowe kapan balik?” dari mulut ibu. 

“kapan mba In kondur?” dari mulut adiku dan “kapan Titin wangsul?” dari kakaku. aku hanya sering meladeni pertanyaan ponakan yang selalunya bertanya; “kapan ‘de Titin pulang lagi?”

kami bahkan jarang sekali berkomunikasi melalu telepon. hanya jika perlu saja kami saling bicara. ibu yang tak terbiasa dengan gadget juga tergolong ‘susah’ ditelepon. di malam hari beliau baru memeriksa HP untuk melihat telepon atau sms yang masuk. ya, seharian mobile sana-sini, takbetah berdiam.

bukan, bukan aku tak rindu jika kemudian memilih jauh. bukan bukan aku taksayang, hingga kemudian tampak jarang pulang. 

iya, bahkan sampai sekarang aku akan selalu speechless untuk mengungkap segala rasa tentang ibu, seperti halnya kepada bapak sebelum kemudian beliau pulang lebih dulu. yang jelas ibu adalah lembar-lembar buku yang takpernah habis kubaca, kumpulan aksara yang beralamat surga. senyumnya adalah cinta, tuturnya adalah sayang, sapanya adalah rindu, tatapnya adalah doa.

“Mba In, niku onten bakwan teng kulkas. yayu wingi nyisain ngge Mba In.” seketika hatiku menggigil, sebab aku yang pergi 2 hari untuk kemping masih disisain bakwan dingin di kulkas. aku suka sekali bakwan.

“Mba In, Ririn pengen maem biskuite, tapi ngendikone yayu badhe dibeto Mb In, dados mboten pareng.” 

“Yayu mboten saged dhahar sewulan waktu awal-awal Mba In teng Bandung. tiap dhahar selalu ngendiko, Titin maem karo apa yah?”

“sidane kowe bali tanggal pira? yayu wis numbaske jajan, emping, peyek, bla bla bla..” makanan yang sudah terbungkus rapi bahkan sebelum aku memutuskan tanggal berapa aku akan pulang. 

maaf yu, untuk cinta yang amat sederhana. untuk rindu yang hanya tersampai melalui doa. maaf yu, belum jua membuatmu bangga, belum sempurna membuatmu bahagia. maaf.. T.T

smoga Allah selalu menjagamu dalam kebaikan dan ketaatan. mengaruniakan keberkahan pada rezeki dan tiap langkahmu. menjadikan surga sebagai tempat berkumpul terindah kita kelak. aamiin.

louph,

-titin. 

gerimis di soeta 550,

22/12/14

Iklan