manusia-manusia di gerbong kereta 4

rain-glitter-pictures-101“senja itu takpernah sama..”

“kata siapa? buatku senja itu selalu sama. ia hanya sesaat memanjakan mata, sesaat memberikan waktu tepat untuk doa yang (masih juga) serupa dan sesaat memberikan waktu untuk segera berburu pijakan di pintu kereta,” dengan cepat kau memotong kalimatku. matamu nanar menatap sepotong matahari yang timbul tenggelam tertutup awan warna-warni.

“bukan senjanya yang sama, tapi kau bosan dengan doa serupa, ya?” aku takbisa menahan senyum, bahkan hampir-hampir tawaku meledak, jika tak ingat tengah ada di kerumunan di stasiun. namun kau tetap bergeming. 

“buatku, senja takpernah sama. yang sama adalah perasaanku saat menatapnya; selalu takjub.”

“naif,” katamu nyinyir. kali ini tawaku benar-benar terdengar. taklagi peduli pada kiri kanan tatap orang-orang.

“kalau begitu, bukan senjanya yang sama melainkan kau yang takpernah berubah. dan bisa jadi itulah penyebab utama doamu masih saja serupa,” tiba-tiba kau menatapku sebelum kemudian kemurungan tampak di wajahmu yang mulai menjadi siluet. kalimatku yang sebenarnya asal-asalan rupanya cukup membuatmu tersentak.

peluit panjang penanda keberangkatan kereta akhirnya terdengar juga. kamu yang mendadak makin murung memilih bangku deket jendela. kereta melaju semakin kencang, stasiun demi stasiun tertinggal di belakang. pun senja hari ini, ia sempurna berlalu membersamai sekerat doa yang tertatih mengetuk pintu-Nya.

“hei, sudahlah. kau tau persis kan? bahwa segala doa yang acap kau rapal itu semakin hari semakin mendekati saat-saat pengabulan-Nya. persiapkan saja jiwa ragamu. sebagaimana laju kereta yang membawa kita ini yang pasti akan sampai ke tujuan, meski dengannya kita harus berdesakan saat membeli tiket, atau bahkan tak ada bangku yang tersisa untuk sekadar menyangga beban tubuh yang sudah kelelahan.” 

“bersabarlah..” akhirnya aku mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya paling dibencinya. sebab baginya sabar itu bukan untuk dikatakan, apalagi hanya disarankan.

 

Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas

(Adh Dhuha: 5)

 

 

pinus 30,

27/5/15

Iklan