berjaga di ruang tunggu #SebabPerjalananAdalahTeman –62

tumblr_np83kime6K1qk9powo1_500

Akhir tahun 2010,

“Mba, Bapak sakitnya kambuh, radang sendi kata Dokter. Sekarang ada di RS,” sms dari adik sempat membuyarkan konsentrasiku yang tengah bersiap mengikuti ujian masuk kerja. Aku bergegas menuju warnet dan membereskan semua yang terkait dengan urusan kerjaku. Ya, aku meninggalkan rumah demi mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dari sekadar menjadi penulis freelance yang penghasilannya pun tak dapat diduga.

Berjaga di ruang tunggu, itu adalah ‘profesi’ baruku setelah beberapa rangkaian tes masuk kerja yang kujalani tak membuahkan hasil. Sejak akhir Oktober Bapak izin tak masuk kerja –entah sampai kapan. Sakit di punggungnya tak kunjung membaik meski berkali-kali keluar masuk rumah sakit. Hingga akhirnya pihak rumah sakit pun mengusulkan untuk menjalankan fisioterapi. Tak tanggung-tanggung, setiap pagi pukul 7.30 jadwal fisioterapi untuk Bapak rutin dijalankan. Aku yang notabene sedang menganggur mendapat tugas khusus untuk mengurusi segala keperluan Bapak. Mengantarkannya fisioterapi, mengurusi segala remeh temen surat izin ke kantornya, asuransi kesehatan dan tentu saja makanan yang harus stand by di kamarnya tiga kali sehari.

Apa aku keberatan? Tentu saja tidak, meski lama kelamaan kebosanan makin melanda hari-hariku. Bagaimana tidak, setiap hari aktvitasku hanya seputar rumah dan rumah sakit. Membeli obat, mengurus surat-surat dan menjaga Bapak. Ada perasaan iri ketika melihat teman-temanku berkarya di luaran, bekerja dan dengan bangga dapat menyisihkan sebagian penghasilannya untuk jalan-jalan maupun untuk membantu orang tua.

—- Aku? Hanya berjaga di ruang tunggu.

 

Awal tahun 2011

Kondisi Bapak tak kunjung membaik, meski setiap hari tak pernah absen dari fisioterapi. Sakit yang dirasakan bapak semakin menjadi, ditambah lagi Bapak susah buang air kecil, bahkan cenderung terhambat hingga kemudian tidak bisa buang air kecil sama sekali. Puncaknya pada medio Januari 2011, Bapak kami bawa untuk pergi ke rumah sakit. Saat itu mendekati tengah malam, aku yang sudah terkantuk-kantuk didaulat bersiap-siap menginap di rumah sakit menemani Bapak. Seumur hidup, baru sekali itu aku naik ambulance meski sirine nya tak dibunyikan. Alhamdulillah, aku yang sehari-harinya terbiasa begadang tidak kaget disuruh ‘begadang’ menjaga orang sakit. Asalkan ada netbook dan sambungan internet, aku bisa anteng seharian sembari menjaga Bapak yang tak bisa bangun dari tempat tidur.

Tak sampai dua hari Bapak menghuni ruangan putih di rumah sakit di kota kecilku. Adanya keretakan parah di dua lumbal tulang punggungnya menyebabkan Bapak harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap peralatannya. Saat itu dokter belum tahu apa diagnosis penyakit Bapak, yang aku tahu hanya sakit Bapak cukup serius. Hal tersebut mengharuskanku lebih lama menghuni kamar baru di rumah sakit di Jogja.

——Ya, aku semakin mengukuhkan diri menjadi manusia yang berjaga di ruang tunggu. Tidak hanya di rumah, dimana masih bisa kunikmati celoteh bayi yang baru lahir, tapi di ruangan 5×4 ini, yang meski lapang dan modern, tapi kesenyapannya sempurna menusuk hingga relung hati terdalam.

Jogja, Januari 2011

“Mba, hasil MRI sudah keluar, dan ternyata ada keganasan yang terjadi di tulang punggung Bapak, meski kami juga belum bisa memastikan penyebabnya apa. Dugaan kami sementara, Bapak terkena kanker tulang sumsum.”

Dokter yang duduk di hadapanku menjelaskan dengan detail dan penuh kehati-hatian. Aku hanya bisa terpaku mendengarkannya. Ada yang jelas-jelas kutahan dalam dada, entah apa. Aku hanya berusaha mencerna dengan baik apa yang dikatakan seseorang yang beberapa hari ini setia menyapa pagi kami di kamar Carolus 505. Dia berpesan, agar tak buru-buru menyampaikan perihal hasil MRI ini kepada Bapak. Satu lagi PR berat untukku, bagaimana mengomunikasikan semua ini kepada Bapak? Bagaimana aku harus bersikap di hadapan Bapak? Dan tentu saja, bagaimana hidupku setelah ini? Bagaimana rupa kehidupan keluarga kami, Ibu, kakak perempuan yang belum menikah, ponakan yang baru 3 bulan melihat dunia dan.. aku. Apa kabar hidupku beberapa bulan ke depan? Apa k a b a r….

—– ..yang kutahu, kini aku sebenar-benar berada di ruang tunggu. Bukan hanya berjaga menemani Bapak yang tengah terbaring tak berdaya, tapi aku juga berjaga.. menunggu sampai kapan Bapak terjaga, sampai kapan aku, kami, bisa menjaganya.

Aku lelah fisik dan jiwa. Setiap harinya harus terus menambah stok sabar, stok ikhlas, juga stok senyum. Kotaku memang tak begitu jauh dari Jogja, hanya 2,5 jam. Namun dengan segala keterbatasan yang ada menyebabkan Ibu atau keluarga lainnya tak bisa sewaktu-waktu menjenguk kami. Ya, aku benar-benar sendiri di sini. Mengurus surat-surat, menghadapi dokter tiap pagi dan bersiap mendengar penjelasan yang tentu saja amat asing bagiku, menyuapi Bapak, dan menyiapkan segala keperluannya setiap saat. Alhamdulillah, ada Uwa dan Paklik baik hati yang juga dimintai tolong untuk menjadi teman Bapak bercerita.

Jika malam datang, aku tenang luar biasa. Aku merasa bisa berlindung di balik kegelapannya, bersembunyi di tengah kesunyiannya. Namun  jika pagi menjelang, aku tak dapat menutupi rasa gelisahku, aku harus terjaga dan bersiap mendengar perkembangan Bapak hari itu dari beberapa dokter spesialis. Aku hanya bisa tersenyum, dan mengiyakan apa yang disarankan pihak rumah sakit kepadaku.

—— Aku terjebak di ruang tunggu, dan tak tahu kapan bisa keluar darinya. Dan semakin perih, ketika melihat Bapak tengah benar-benar menunggu takdir terbaiknya, meski tak ada yang dapat menjamin dan memastikan, siapa yang akan mendapat nomor antrian lebih dahulu. Bapak yang tengah berjuang, atau aku yang nampak lapang, masih bisa santai berleha sembari tertawa ceria.

 

Aku tahu Bapak jeri dengan sakitnya, setelah perlahan aku berusaha mengomunikasikan keadaan yang sebenarnya. Tapi hebatnya, Bapak makin semangat untuk berobat. Tak ada rasa takut meski jadwal operasi berkejaran hingga tiga kali dalam waktu satu bulan. Bapak memercayakan semuanya padaku, bahkan saat kemudian operasi tersebut berhasil dan Bapak keluar rumah sakit sebulan kemudian, Bapak tak pernah mau lepas dari pengawasanku.

Ya, kanker prostat stadium lanjut yang menyerangnya semenjak akhir tahun lalu akhirnya bisa ditaklukannya. Dokter mengijinkan Bapak pulang dengan catatan tetap harus periksa rutin seminggu sekali. Kebumen-Jogja seminggu sekali, dengan kondisi harus selalu tiduran selama perjalanan bukanlah rutinitas yang mudah. Kejenuhanku terhadap rutinitas yang telah berbulan-bulan dijalani acap membuatku terdiam memberontak. Sejujurnya, aku ingin berontak, tapi aku hanya bisa diam.

 

—- ruang tunggu ini ternyata benar-benar menjebakku. Meski tak dapat dimungkiri, banyak sekali pelajaran yang kudapatkan. Akhirnya kini aku tahu, bahwa Allah tidak sedang menguji Bapak dengan sakitnya, tapi Ia tengah menjajal kesabaranku, mencoba keberanianku menghadapi hidup, melatih keterampilanku berkomunikasi dengan situasi yang baru serta bagaimana aku bisa menyikapi masalah dengan atau tanpa Bapak.. kelak..

September 2011

Hampir setahun Bapak terbaring. Setelah sempat bisa berdiri dan berjalan-jalan seperti biasa selama dua bulan, kanker yang ada ternyata kembali merambah. Kali ini kedua kaki Bapak makin lemas, dan tak bisa digerakkan. Praktis, hanya untuk berbalik kanan atau kiri Bapak memerlukan bantuan kami. Badannya semakin kurus, nafsu makannya berkurang. Apa-apa yang dimakannya mulai dimuntahkan.

Sekali-sekali Bapak salah mengenali kami. Ingatannya mulai berkurang, apa yang dibicarakan mulai membuat dahi kami berkerut, meski tak ada kalimat aneh-aneh keluar dari bibirnya. Yang paling membuatku sedih adalah melihat rona malu di wajah Bapak ketika dia menyadari kesalahannya menyebutkan nama kami. Yang membuatku gemetar adalah melihat kilatan-kilatan semangat untuk sembuh dari matanya yang kecoklatan. Bapak tak pernah berhenti berjuang untuk sembuh, dan Bapak tak sekalipun mengeluh kepada kami tentang sakitnya. Nyata kusadari, ini memang ujian buat kami yang (merasa) masih sehat. Untuk Bapak, aku yakin Allah mempunyai perhitungannya sendiri.

—- ruang tunggu ini semakin lengang, satu persatu tanda yang pernah kubaca di selebaran di dunia maya tentang tanda-tanda penyakit kanker semakin nyata terlihat. Aku tahu aku tak sendiri di sini, tapi aku tak bisa menajamkan mataku melihat orang lain yang juga tengah duduk atau berdiri gelisah meramaikan ruang ini. Aku sadar sepenuhnya, ruang tunggu ini akan semakin lengang, dan kehilangan seorang penghuninya, cepat atau lambat ruang tunggu ini semakin pekat, hari itu semakin dekat….

 

Oktober, 2011

Siang itu aku telpon Bapak yang masih di rumah sakit. Kudengar suaranya yang mulai cadel tak dapat lagi kumengerti apa maksudnya. Kakakku yang membantu menerjemahkan maksud Bapak sesekali menyela untuk menjelaskan perkataan Bapak. Yang kuingat, siang itu Bapak berkata, “Kamu enggak jadi pulang Sabtu-Minggu ini, Tin? Ya sudah, enggak apa-apa.”

Awalnya aku memang berniat pulang, tapi rasa-rasanya aku capek jika hanya pulang sehari menempuh perjalanan Bandung-Kebumen. Dan sampai sekarang aku menyesal, kenapa waktu itu tidak mengiyakan saja untuk pulang.

Ya, akhirnya aku kembali bekerja di Bandung, setelah setahun berhenti dan menempati ruang tunggu di rumah serta di rumah sakit.

Aku tahu kondisi Bapak semakin memburuk dan tidak bisa dikompromikan lagi, bahkan sedari awal pengobatan Bapak di Jogja dimulai. Dokter yang sempat kutemui telah mewanti-wanti agar kami bersiap bagaimanapun hasil dari segala proses pengobatan ini. Sabtu itu aku sms-an dengan kakak yang berjaga di rumah sakit di Kebumen. Oiya, setelah bolak balik Kebumen-Jogja, akhirnya kami memutuskan untuk merawat Bapak di rumah sakit di Kebumen saja. Selain dekat, pertimbangan biaya menjadi alasan utama kami.

“Paru-paru Bapak sudah kerendem, de.. secara medis Bapak sudah enggak ada.” Sms dari kakak membuatku kaget, sehingga akupun buru-buru membeli tiket untuk pulang ke rumah. Aku tak lagi bertanya tentang kondisi Bapak hingga menjelang malam, dan kemudian hanya mendapat jawaban.

Innalillahi, jam 18.10”

 

Aku tergugu. Tak ada air mata. Sepenuh kesadaran aku memohon doa dari sahabat-sahabat yang selama ini telah banyak membantu keluarga kami. Aku terduduk tenang di bangku depan travel yang membawaku membelah jalur selatan menuju Kebumen.

Hingga pagi itu datang juga, saat kulihat bendera putih tertancap di halaman, saat kulihat keranda berbalut kain hijau tergeletak di ruang tamu. Saat itu telah mendekati kami…

Akhirnya, hari itu datang juga. Hari yang dengan atau tanpa sengaja aku tunggu-tunggu. Hari yang aku ingin membuktikan keberadaannya. Hari dimana aku kehilangan manusia terbaik yang pernah hadir di sepanjang usiaku kini. Hari dimana aku kehilangan seorang teman, seorang panutan di ruang tunggu itu..

“Aku mencintaimu kini dan nanti, di sini, di sana, hingga berkumpulnya kita di surga.”

Entah bagaimana ceritanya, tapi aku dengan sepenuh kesadaran menuliskan kalimat itu menjadi status di sebuah jejaring sosial yang memang kutujukan untuk Bapak. Aku sempat melirik jam yang tertera sesaat setelah aku menge-share-nya. 18.10.

—- dan hingga kini aku masih tetap berjaga di ruang tunggu. Tak hanya di rumah atau di kamar berukuran 5×4 meter, tapi di luasan semesta yang sebenarnya bersifat fana. Dulu atau kini sejatinya tak ada beda, kita tengah sama-sama berada di ruang tunggu bernama dunia. Duduk, berjalan maupun berlari mengejar mimpi demi indahnya rumah abadi. Tersenyum ramah pada setiap masalah atau bahkan melangkah gontai menyambut serbuan kenikmatan.

 

Hidup ini hanya tentang berjaga di ruang tunggu, hanya tentang bagaimana menfaatkan waktu agar tak tersia berlalu. Hidup ini hanya tentang perjalanan mengitari ruang tunggu, mencari celah paling indah untuk menemui-Nya, mengoptimalkan usaha, agar kelak kita bisa bersama-sama di surga tertinggi-Nya. :’)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

 

 

ruang tunggu, 21.34

Bandung, 1/3/14

** itu artikel lama yang sengaja dibikin untuk lomba menulis kisah nyata. yang qadarullahnya, dari 500 peserta hanya masuk 20 besar dan gak menang, tapi lumayan lah yaa.. daripada lumanyun :P. sedang artikel sebelumnya “kangen bapak” itu dibuat juga untuk lomba serupa dari qultummedia tahun 2012, dan masuk menjadi naskah pilihan. jadi dapet hadiah buku dan piagam. ya ya.. lumayankan, daripada lumanyun :P. pengen nyimpen aja di sini. kalau bosen, maaf dan skip aja eaa 😀

Iklan