manusia-manusia di gerbong kereta 5

giphy_1_

“takada kata terlambat di dunia ini, yang ada hanyalah pintu perjalanan baru yang tengah dibukakan-Nya.”

aku tercenung. kalimat itu hanya kata yang kureka-reka demi mendiamkan gemuruh hati. demi mendinginkan badan yang memanas tiba-tiba. jangankan untuk tersenyum, menatap sekitar aja aku mendadak takut. khawatir ada orang yang mendapatiku nyalang penuh amarah.

penyebabnya sepele; ketinggalan kereta! mungkin untukmu sepele, tapi tidak untukku.

“menunggu pemberangkatan, mba?” tiba-tiba seseorang duduk tanpa permisi di sebelahku.

“saya juga, tapi keretanya terlambat. jadi saya harus menunggu entah sampai kapan. belum ada pemberitahuan lebih lanjut. padahal saya membawa obat untuk ibu yang sedang sakit di rumah.”

tibatiba seorang perempuan awal dua puluhan duduk di sebelahku. ia menawarkan gelas minuman yang kemudian kutolak. air mukanya tampak sangat santai. sedangkan bahasa tubuhku jelas menyiratkan sinyal waspada. aku mengerjap, merasakan cahaya senja yang masih terlalu keras menyilaukan. gegas langkah orang-orang yang ingin segera mencapai gerbong kereta belum sempurna menjadi siluet. 

“mba belum nikah yah? masih suka main-main kesana kemari? yaudah santai aja, mba.. jangan pernah pikirin orang yang suka tanya kaya saya tadi ya hehe.. jodoh mah ada yang ngatur. kegagalan mba duludulu adalah jalan usaha untuk mereka yang pernah berproses sama mba juga.. mereka belum menemukan orang yang tepat, pun mba.”

“yang penting mba juga tetep usaha, kan?”

aku udah siapsiap membantah. tapi perempuan soktau tadi tak kunjung menghentikan ucapannya. tiba-tiba aku ingin mengganti jadwal keberangkatanku. aku ingin segera meninggalkan kursi stasiun. terutama meninggalkan perempuan di sebelahku ini. siapa dia, soktau sekali tentang hidupku.

“yakinlah mba, seperti pemberangkatan kereta yang maju mundur. ada yang terangkut dan ada yang harus menunggu jadwal selanjutnya. begitu pula dengan pasangan. ia akan datang pada waktu yang amat tepat.”

aku udah siapsiap berdiri.

“mengantrilah dengan rapi mba, siapkan tiketnya. jangan lupa bawa air minum dan bekal, karena mba juga taktahu berapa panjang antrian itu. atau kalaupun mba bisa melihatnya, bisa jadi kereta yang ditunggu ternyata terlambat di stasiun sebelumnya. heu.. analoginya kurang tepat mungkin..”

aku benar-benar mengemasi tas dan barang bawaanku tanpa peduli dengan ucapan perempuan aneh itu.

“eiya mba, sebenarnya ada antrian yang kita sendiri berharap berada di paling belakang dan bahkan enggan mempersiapkan diri untuknya..”  perempuan itu menggantung kalimatnya.

“yaitu maut.”

kalimat terakhirnya membuatku terdiam. ya, dari semua antrian, ada yang sudah pasti tengah kujemput. ada yang paling pasti terjadi, tapi justru seringkali terlupakan. 

“terima kasih sudah mengingatkan saya mba,” aku tersenyum. lebih tepatnya memaksakan senyum.

dan sekarang aku benar-benar berada di tengah antrian untuk memajukan keberangkatan. aku memutuskan menemui senja di dalam gerbong kereta saja. bodo amat perempuan di sebelahku yang lebih mirip nenek-nenek daripada perempuan awal dua puluhan.

ah, tapi masih adakah senja yang bisa kutemui? bukankah aku sedang dalam antrian yang bahkan aku taktau kapan waktuku berada tepat di depan petugas loket untuk menyerahkan karcis itu?

peluit pemberangkatan terdengar di kejauhan. 

*Rabb jaga kami dalam kebaikan dan istiqamah dalam ketaatan pada-Mu. selalu.

pinus, 19/8/15

Iklan