doa, hujan dan kereta.

bunga

“de titin kapan pulang? ya udah cepetan beli tiket ya, ya, besok, biar gak kehabisan lagi. Kan sekarang senin, trus selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu. asiiik, asiiik, sabtu ya, de, pulangnya!!” nada kegirangan itu terdengar begitu jelas meski berjarak ratusan kilometer di sisi timur kota tempatku tinggal.

tentu saja aku ikut terbahak. dengan suara yang keras dan terdengar hingga luar kamar, kami melanjutkan perbincangan. sebenarnya lebih mirip interogasi daripada perbincangan. iya, mana mungkin berbincang dengan anak usia kurang dari lima tahun. kalau ada angin baik, dia mau diajak berbincang, kalau enggak, dengan alibi sempurna dia akan bilang, “ini nih, bunda mau ngobrol, de!”

aku tersenyum membayangkan obrolan-obrolan kami lima tahun ini. tentang doa, hujan dan kereta. kau mungkin tak ingat betapa tiap pagi aku membawamu ke teras dan kita bersama-sama mendoa. memintakan kebaikan dan penjagaan dari Sang Maha. melihat daun-daun yang bergoyang dan awan yang berarak perlahan. kita tengah sama-sama berusaha mengenal-Nya, memupuk sedikit demi sedikit cinta kepada-Nya.

lihatlah, kau kini sudah fasih melafazkan banyak doa. tentu saja bukan karena rutinitas pagi kita dahulu. bukan. “hafalannya udah sampai al fajr sekarang, de!” serumu dari seberang.

seumuranmu, aku bahkan takingat sudah bisa baca qur’an atau belum. semoga Allah selalu memampukan ayah bundamu untuk membimbingmu, dengan sabar mengajarkanmu tentang jalan indah bersama-Nya.

hujan. mungkin hujan dan anak kecil memang sudah tertakdir. rasa-rasanya takada anak-anak yang tak gemar bermain hujan. begitu pun engkau. “di sana hujan gak, de? tadi di sini hujan dereees.” hingga kegiatan mandi dengan shower yang dibuat seolah-olah hujan pun menjadi favoritmu setiap hari.

kereta malam yang kunaiki berderit, berjalan perlahan. “de, mba, mas, yu, titin udah duduk di kereta. alhamdulillah.”

aku mengirim sekaligus empat sms ke orang-orang terkasih, kemudian kusimpan telepon genggam itu di bagian paling atas ransel supaya memudahkan jika ingin mengambilnya kembali. suasana di kereta ekonomi memang tak selamanya menyenangkan, tapi yang jelas lebih banyak yang bisa dilihat dan dinikmati daripada di kesunyian kereta bisnis atau eksekutif. semakin malam obrolan khas warung kopi semakin memenuhi lorong kereta, meski lebih banyak lagi orang-orang yang tertidur tanpa dengkur. mungkin karena bangku yang notabene keras sehingga memejamkan mata pun takakan bisa senyaman jika duduk di kursi yang empuk berbusa.

aku merapatkan jaket. AC di kereta ekonomi tak terlalu bersahabat dengan badan, kadang bocor atau entahlah, rasanya begitu dingin. di luar hanya gelap. nampak kelap-kelip lampu pemukiman penduduk memberi warna indah pada malam.

dan kereta, adalah satu-satunya hal yang membuatmu amat tertarik hingga saat ini. bahkan alasanmu meminjam hp hanya untuk melihat video kereta atau mengedit foto. takpernah bosan engkau bercerita tentang kereta, menonton berulang-ulang tayangan thomas and friend. selalu berteriak senang saat menjemput dan mengantarkankanku ke stasiun hingga hafal nama kereta dan jam pemberangkatannya. segala tentang kereta dan stasiun memang menyenangkan, ya, nang. :’)

my gonang, my ede, Ibrahim Syahim Arsyad. baarakallah fii umrik. semoga menjadi anak shaleh dan menshalehkan.

Ibrahim itu Nabinya syahim, de! kalo Muhammad itu Nabinya ahda!” dengan bangga engkau menyebutkan nama yang merupakan doa ayah bundamu untukmu, pun untuk adikmu, Ahda Dzakiy Muhammad. semoga engkau dan juga ahda memiliki sebaik-baik perangai manusia-manusia pilihan-Nya. aamiin.

“tadi pagi begitu bangun tidur syahim langsung berlari ke bundanya yang sedang berada di dapur dan langsung bilang, bunda ingat gak, hari ini syahim udah 5 tahun?” tulis ayahnya melalui pesan di watsapp. dan aku pun kembali tergelak.

 

1 oktober 2015,

antim24

Iklan