manusia-manusia di gerbong kereta 6

 

 

tumblr_nhh9qw8wTg1svc92fo1_500

“jika senjamu tak berwarna doa, setidaknya jangan kelir ia dengan kesah.”

aku baru melompat naik ke teras stasiun saat gerimis mulai menyapa. mendadak derap sepatu berkecipak, bersusulan dengan cipratan genangan semalam. ada teriakan bahagia bocah yang taksurut bermain bola, tak kurang pula umpatan orang dewasa sebab terlupa membawa penutup kepala.

musim berganti. bola oranye yang biasa menemani laju kereta kini takada lagi. sesekali ia masih memunculkan diri, meski takbulat sempurna, meski tak membiaskan rupa-rupa warna. namun ia masih rajin mengirimkan tanda untuk membunyikan peluit panjang keberangkatan.

waktu berlari. mengundang pelangi penawar duka hati. namun satu hal yang sudah terlanjur akrab menemani pengujung hari; deret kata yang termaknai sebagai doa spontan terucap begitu matahari merendah pergi.

bahkan kini lebih khusyu lagi. karena Ia menjanjikan pengabulan pada tiap titis air yang menderas menghunjam ulu hari.

“seharusnya kau datang membawa kabar bahagia.”
“apa maksudmu dengan kata seharusnya? kau pikir aku kurir yang bisa begitu saja memberikan kotak bahagia atau luka?
“tapi aku telah meminta begitu lama. bukankah kedatanganmu pertanda baik bagi segala doa?”
“ketahuilah, aku hanya perantara. takada musim yang paling tepat untuk meminta selain saat itu juga. takperlu menungguku, takusah menuntutku. Tuhanmu lebih tahu. Dia menyayangimu pada setiap hembus nafas yang masih diberikan-Nya.”

 

medio penghujan,

antim24, 26/01/16

 

Iklan