manusia-manusia di gerbong kereta 7

 

8161_01276190197

hampir saja aku terlambat. jika sesuai jadwal, kereta yang akan kutumpangi dua menit lagi berangkat. bahkan tadi petugas karcis sekilas saja memeriksaku, dia segera menyuruhku berlari ke jalur tiga. aku hanya tersenyum lebar, mendengar nasihat yang sayup-sayup mengiringi langkah lebarku.

mungkin dia sudah mulai hafal, akhir-akhir ini aku sering terlambat dan tak lagi duduk di pojok kursi tunggu seperti biasanya.

hap!! sekejap saja aku melompat.

kursi sebelahku kosong, alhamdulillah. semoga saja sampai akhir pemberhentian. di luar, langit hanya menyisakan segaris oranye. rupanya bola bundar matahari tengah sembunyi.

februari ini hujan taklagi malu menyapa hari. kadang bergemuruh, kadang juga nampak satu-satu. air cucurannya mengisi gentong kosong di bawah talang-talang air sudut rumah. katanya begitulah filosofi rezeki, jika gentong sudah kosong, sumur sudah mengering, tandanya Allah akan menghadirkan hujan untuk mengisinya lagi. pun rezeki. yang hilang pasti terganti. yang pergi pasti akan dihadirkan-Nya kembali.

“permisi, assalamualaikum. kak, boleh ya saya duduk di sini.”

kalimatnya sudah bukan lagi pertanyaan, melainkan pernyataan. aku hanya mengangguk kecil.

tadi aku sempat melihat gadis berjilbab ini duduk di baris sebelahku. sendiri juga, sebelum akhirnya ada seorang laki-laki menempati kursi sebelahnya.

“maaf, kak. bagi saya memilih teman perjalanan adalah keniscayaan. ia haruslah yang membuat nyaman dan bisa mengamankan saya.”

aku mengernyit, berusaha mencerna kata-katanya. dia melirik ke arah tempat duduknya semula.

“oh, iya.” aku mengangguk mengerti. kali ini dengan senyum yang kuusahakan tulus. mungkin dia bisa membaca bahasa tubuhku yang seolah menolak kehadirannya. aku memang terlalu hati-hati dengan orang baru, jika takbisa disebut parno.

“selain itu, teman perjalanan haruslah membaikan,ia harus mencintai Tuhan. sebab katanya, cinta itu yang akan mengakrabkanmu pada segala jenis perjalanan,” lanjutku sok tau.

“Tuhan yang mana? Allah, Tuhan kita. sebab taksedikit orang yang ternyata menuhankan harta, dunia dan bahkan matahari,” dia melirik keluar jendela, megikuti arah pandangku.

aku terdiam. takingin membalas ataupun membahas perkataannya lagi. ia juga sudah asik dengan buku di tangannya.

menuhankan matahari? aku terdiam.

lalu, jika selama ini aku masih santai saja memerangkap matahari dengan lensa kamera meski sudah terdengar adzan, dan berkeras memburu layung senja jelang iqamah..

kira-kira hal itu akan kau beri nama apa?

 

gerimis di pinus30,

22/02/16

 

 

Iklan