memelihara kebaikan #SebabPerjalananAdalahTeman –93

 

 

tumblr_n3qm30qpe51rjdnouo1_r2_500gif

setahun sudah berlalu, kota madinah masih saja kekeringan. kaum muslimin makin giat berdoa dan melakukan shalat istisqa untuk meminta hujan, namun  hujan belum kunjung datang. Allah belum berkenan memberikan tetes-tetes kesejukan untuk madinah kala itu.

malam mendekati dini hari saat seorang lelaki berkulit hitam masuk ke masjid nabawi dan melakukan shalat sunnah dua raka’at. Setelahnya dia berdoa, menengadahkan tangan dengan penuh kesungguhan;

“Ya Allah, penduduk tanah suci Nabi-Mu telah keluar untuk memohon hujan, tetapi hujan tidak turun-turun. Aku bersumpah untuk-Mu, turunkan hujan untuk mereka sekarang juga.”

tidak jauh dari lelaki berkulit hitam itu duduk muhammad al mankadir, ia begitu heran menyaksikan apa yang dilakukan lelaki tersebut.

“doa yang berani,” batinnya.

tiba-tiba dari langit terdengar suara petir menggelegar, bahkan sebelum si lelaki berkulit hitam sempat menurunkan tangannya. seketika hujan pun turun dengan deras, membasahi seantero madinah. setelah hujan turun, lelaki hitam itu kembali meneruskan dialognya dengan Allah;

“siapakah aku, apalah aku sehingga doaku begitu cepat dikabulkan. Ya Allah kemuliaan kembali kepada-Mu, atas segala kemurahan pemberian-Mu.”

lelaki berkulit hitam itu melanjutkan shalat hingga subuh tiba, kemudian segera berlalu bersama jamaah lainnya. al mankadir yang penasaran berusaha mengikuti dan mencari tahu di mana lelaki itu tinggal, dan kembali berkunjung pada siang harinya. ternyata lelaki berkulit hitam tersebut seorang tukang sepatu. setelah duduk, al mankadir langsung bertanya, “bukankah engkau yang tadi malam shalat dan berdoa di masjid?”

tukang sepatu itu marah mendengar pertanyaan al mankadir, “apa urusanmu dengan itu semua?”

akhirnya al mankadir berpamitan pulang karena tidak enak. tiga malam berikutnya al mankadir tidak lagi mendapat tukang sepatu itu shalat di masjid. kemudian al mankadir mendatangi rumahnya yang ternyata telah kosong. keluarganya mengatakan, setelah kedatangannya, si tukang sepatu langsung berkemas dan pergi entah kemana. al mankadir lalu mencarinya di sekitar madinah, namun ia juga tak berhasil menemukannya.

 

setiap orang mempunyai cara sendiri untuk memelihara kebaikan atau kelebihannya. seperti  sang tukang sepatu yang doanya langsung diijabah oleh Allah. ia mungkin tak mengira bahwa apa yang telah diucapkannya mempunyai dampak yang begitu besar bagi penduduk madinah. namun ia sadar bahwa apa yang telah dilakukannya perlu dijaga. agar ia benar-benar bisa merasakan ‘tuah’ dari segala perbuatannya kelak di akhirat.

agar riya’ tak sempat hinggap hingga menganggap diri hebat. agar amalan unggulan yang mungkin tak disadari telah membuka pintu ‘Arsy-Nya dengan seketika, tetap utuh dan dapat mewujud menjadi pemberat timbangan kebaikan di yaumul hsab.

seperti Aisyah yang berkata, “betapa inginnya aku menjadi sesuatu yang tak berarti lagi dilupakan,” saat Ibnu Abbas memuji tentang kelebihannya.

maka sudah seharusnya kita dapat berkaca dari peristiwa di atas bahwa ikhlas itu ada di awal, di tengah serta di akhir. bahwa hanya Allahlah sebaik-baik Dzat yang berhak memberikan ganjaran atas apapun yang kita lakukan.

 

 

 

**NtMS

pinus30 jelang hujan

 

 

 

Iklan