manusia-manusia di gerbong kereta 8

bfr

 

nyatanya aku selalu ketinggalan kereta.

apa mungkin hanya kereta senja itu yang setia memberiku tempat duduk? atau Ia sengaja membiarkanku berlama-lama menikmati siluet orang-orang yang bergegas beriringan mengejar waktu, mengamati dan belajar banyak dari mereka?

ah, bukankah waktu takpernah lebih cepat atau lebih lambat, tapi mengapa kita hobi sekali berlarian dengan dalih mengejarnya? kita? aku tepatnya.

dan lihatlah sekarang, aku masih berdiri di tempat yang sama, dengan geletar yang sama menanti senja. bertemu jingga selalu membuatku jatuh cinta. membayangkan duduk membersamainya sempurna menghadirkan kaca bening di mata.

namun tak seperti biasanya, kali ini aku bergeser dari bangku tunggu stasiun menuju lapangan rumput di sebelahnya.

“mana ada perekam secanggih lapang hati yang buncah oleh rasa syukur?” seorang lelaki muda merebut kamera dari tangan perempuan di sampingnya.

“eh, ini juga salah satu bentuk syukur. aku hanya ingin mengabadikan segala momen, agar ingatanku yang minim taklantas lupa oleh saat indah ini,” timpal si perempuan. ia merebut kamera dan segera mengganti lensanya.

“sudahlah. letakan kameranya. rekam semua di sini. cobalah kau tangkap segala keindahan dengan senyum tanpa harus memikirkan angle mana yang paling menarik dari cerianya para bocah itu. percaya padaku, bingkai ini lebih abadi daripada sebuah gambar artfisial lensamu,” si lelaki panjang lebar menjelaskan sembari menunjuk dada sendiri.

“tapi itu bukan artifisial. senyum mereka tulus, hanya aku takmau kehilangan senyum itu, makanya ingin kupotret mereka.”

“hei, percaya padaku. pergilah bermain bersama mereka. itu sebaik-baik bingkai yang akan mengabadi di hati mereka selamanya. hingga keriput menyapa wajahmu,” si perempuan bersungut-sungut meski kemudian ia berlari dan bergabung bersama tiga anak kecil yang tengah berkejaran bermain layang-layang.

di tempatku berdiri, aku pura-pura sibuk menyeting kamera, padahal telingaku awas mencuri dengar obrolan mereka. sesekali ekor mataku juga menangkap ekspresi-ekspresi wajah penuh cinta. tak menunggu lama, si lelaki juga turut bergabung dan berlarian di antara ilalang.

tubuh mereka menjadi siluet. sebentar membesar sebentar mengecil. rupanya matahari tengah bahagia sore ini, langit pun mengelir semesta dengan warna jingga.

gelak tawa terdengar jelas di antara gerbong kereta yang datang dan pergi.

mungkin sesederhana itulah bahagia. takperlu kamera, takperlu pula mahalnya wahana permainan di tengah kota.

aku melirik jam di ponsel. lima menit lagi keretaku datang. peringatan dari petugas stasiun terdengar tepat ketika aku mengakhiri bidikan terakhirku pada siluet bahagia mereka. jika kalian menyimpan bahagia di jiwa, aku pun. namun ijinkan aku mencatatkan siluet kalian pada shutter count kameraku.

 

 

antim24, 13/03/16

 

 

Iklan