nasihat #SebabPerjalananAdalahTeman –106

8161_01276190197

pagi itu, kami kehilangannya. belum juga pukul 6.00 ia sudah keluar kamar yang berbulan-bulan harus dihuni tanpa bisa kompromi. aku bergegas menyusuri jalan, berharap bertemu dengannya untuk sekadar menemani serta membebaskan diri dari rasa khawatir yang berlebih. namun hingga ujung jalan takjua terlihat jejaknya. aku terus melangkahkan kaki menuju rumah masa kecilnya.

“mba tin badhe pundi, enjang-enjang sampun jalan-jalan?”

“madosi bapak. Nembe saged mlampah langsung pengen jalan-jalan.”

aku sibuk tersenyum dengan orang di sepanjang jalan, sembari menjawab segala keheranan dan pertanyaan mereka.

pagi itu, persis di bulan yang sama dengan bulan ini lima tahun yang lalu, beberapa hari setelah segala proses terapi di rumah dan rumah sakit selesai, ia diijinkan untuk kembali beraktivitas. bisa bangun sendiri, ke kamar mandi sendiri, makan sendiri, juga jalan pagi seperti kebiasaannya dahulu. hingga beberapa malam kemudian ia bahkan kembali duduk-duduk di lapangan dekat rumah menyaksikan pertandingan badminton.

tawanya sudah kembali, candanya pun. pernah suatu kali harus kembali kontrol ke yogya, ia taklagi mau tiduran telentang di mobil seperti biasanya. dengan yakin ia duduk di depan. perjalanan itu tentu sangat istimewa, karena ia bisa melihat pemandangan di sepanjang jalan. takseperti harihari sebelumnya, dimana ia hanya bisa menebak-nebak sampai di mana mobil yang kami tumpangi.

“mba, seniki rasanya tenang banget nek’ mireng bapak ndengkur,” kata adikku.

hari-hari itu, semua kembali ceria. suara dengkur yang biasanya mengganggu terasa begitu nikmat dan menenangkan. malam-malam kami kembali tenang, takharus berjaga, takharus khawatir karena mendapati bapak yang kesakitan setiap beberapa jam sekali.

akan tetapi aku masih suka sekali mengaturnya. melarangnya makan ini itu. melarangnya kontrol ke yogya dengan alasan capek, —padahal aku yang males. juga memarahinya jika ketahuan mencicipi makanan yang takada dalam daftar gizi untuknya.

dan yang sebenarnya terjadi adalah, kepenatan dan kekhawatiran yang berlebihan masih utuh, takberkurang meski sama sekali takkentara.

**

“harusnya kita bersyukur, karena Tuhan sudah kasih pertanda yang jelas agar kita bisa bersiap-siap menghadapi kehilangan. tugas kita hanya  mengusahakan hal yang paling baik sekarang.”

iya, kata-kata dokter tedjo dahulu saat kami sangat khawatir dengan kondisi bapak memang benar. bahwa sakit bisa menjadi penanda betapa dekatnya kematian, meski sehat juga sama sekali takbisa dijadikan ukuran jauhnya ia.

cukuplah kematian sebagai nasihat. mari bersiap, mari senantiasa berjaga.

 

 

 

*hujan di antim24, 9/4/16

saat semua makanan rasanya sama; pahit.

 

 

Iklan