cokelat beraroma matahari

39816954bk2 (1)

matahari

kulihat cokelat meleleh di matamu yang begitu bening. sekilas saja aku menatap kedalamannya. hening. serupa spasi kutekan tanpa henti menengahi A dan S. tak lagi tercipta aksara yang membuat gaduh tuts-tuts meningkahi hari kian sepi. matahari yang acap mendekat lalu menjauh menguarkan aroma jeri pada titah semesti-Nya.

cokelat

tahukah? aku membencimu, sungguh. pada leleh yang selalu kau cipta tepat saat mata ini menatap bayangmu. pada rindu yang meriah kau sambut melalui ujung malam. pada salam yang kau titipkan lewat hujan, pada pelangi yang senantiasa kau wartakan di jingga senja.

aku tak pernah peduli pada hangat yang senantiasa kau bagi setiap hari. dari pagi hingga sore menjelang. jua pada malam yang kau biaskan melalui cerlang cahaya bulan. aku tak mau tahu, sebab kau genap tahu tentang titah takdirmu.

Kinan terkesiap membaca kalimat-kalimat tersebut. Lebih cermat ia menelusuri kata demi kata dari layar 10 inchinya. Entah kenapa, tapi ia merasa begitu akrab dengan ID blog dan semua kalimat yang tertulis di sana. Ayung, perempuan berkaca mata tersebut berusaha keras mengingat, kapan dan di mana kira-kira ia mendapati nama itu.

Siapa kira-kira yang menulis ini semua? Refleks Kinan memegang bros kupu-kupu berwarna ungu yang tersemat cantik pada jilbab putihnya sembari menggigit bibir. Itu adalah reaksi kaget, panik, dan grogi teraneh menurut orang-orang di sekitarnya. Tanpa sengaja Kinan mengetik kata cokelat pada mesin pencari, lalu muncul blog yang bernuansa cokelat tersebut. Namun bukan itu yang membuat ia terkejut, bukan pula ID Ayung yang terasa begitu akrab di telinga, melainkan sebagian kata-katanya adalah kata-kata yang sering ia pakai pada tulisan dan puisi-puisinya.

“Kinaaan! Hayu kita makan, keburu waktu istirahat habis.” Puri berteriak dari balik pintu.

“Bentaar.” Kinan masih menelusuri blog dengan ID Ayung tersebut, saat Puri tiba-tiba berdiri di depan meja.

“Saya sudah kelaparan, Nona Kinan, bisakah kita pergi makan sekarang?” Kinan cuma bisa nyengir melihat Puri dengan muka cembetut begitu.

Ayung. Cokelat. Matahari. Tiba-tiba kata-kata itu melekat kuat di benak Kinan. Cokelat dan matahari, keduanya memang tak terpisahkan dari hari-hari Kinan, bahkan hingga kini.

**

rindu, adalah bukan tentang jarak seberapa mil entah ia terpisah. namun tentang kenang kebersamaan. akankah ia bisa kembali terulang.

 rindu, adalah bukan tentang jarak seberapa mil entah ia terpisah. namun tentang waktu yang menjauh dari jenak pertama kali ia bertemu

 rindu, adalah bukan tentang jarak seberapa mil entah ia terpisah. namun tentang aksara yang menjelma kata. kau baca pada jeda pagi, senja atau setelahnya.

 rindu, adalah bukan tentang jarak seberapa mil ia terpisah. namun tentang senyap yang menyergap bahkan sebelum sempat langkahmu beranjak

 rindu, adalah bukan tentang dia yang sedianya indah menalikan benang merah jambu, tapi tentang kamu, tawa yang menghabiskan separuh waktu di tiap hariku.

 rindu, adalah bukan padanya. sosok maya yang sekejap hadir melalui baris katakata. tapi padamu, yang bahkan tak sempat membebat janji sehidup semati

 rindu, adalah ternyata tentang kamu. yang masih saja menjelma raja lebih dari satu dasawarsa.

**untuk hati yang batu

Kinan meremas kertas yang ia temukan di antara lembar buku yang tengah dibacanya. Ia ingat persis kapan puisi dengan huruf kecil itu dibuat. Bulir-bulir bening mengaliri kedua pipinya, ia terisak memeluk lutut. Apa Allah tengah menghukumnya?

Ia merasa terpenjara pada ruang pekat namun anehnya ia enggan meninggalkannya. Kelebat bayang masa lalu makin memenuhi otaknya. Bagai di bioskop, kini ia bisa melihat tayangan film tentang masa lalunya sendiri di tembok  kamar berwarna ungu miliknya.

Tanpa sadar jemarinya kembali meraih tab di depannya. Air matanya belum lagi mengering. Bibirnya bergetar, lirih ia melafadzkan nama yang telah ia kubur di sudut hati paling dalam karena ia tak pernah mau mengingatnya lagi.Tak pernah mau..

cokelat beraroma matahari

 sebab bagiku, cinta adalah ketika tiba-tiba begitu banyak kata yang bisa tercipta dari terbatasnya aksara di antara A dan S. berjejalan ia, hanya sejarak satu spasi yang kemudian kutandai sebagai rindu nan syahdu. ia juga semanis cokelat, hmm.. kau mau cokelat apa? sebatang cokelat yang menemanimu bersama setumpuk pekerjaan kantor, atau cokelat panas yang siap sedia saat gigil menghantam malam di antara rintik hujan? keduanya sama-sama karib yang menyenangkan, meski tentu ia bisa berubah pahit saat kau membubuhkannya di lidah secara berlebihan.

 ah, ya.. segala yang berlebihan itu memang menjadi teman setan. namun apa kau percaya, saat kukata tak ada yang berlebihan dengan rasa yang kupunya. pasti kau atau siapapun tak akan ada yang percaya, sebab aku memang sudah menawannya begitu lama. memahatkannya sebagai grafiti hati. mengabadi.

Hati Kinan semakin basah. Sisa hari ini ia habiskan untuk mondar-mandir di blog dengan ID Ayung tersebut. Editan yang masih menumpuk, balasan email dari para penulis dan setumpuk pekerjaan kantor lainnya tak dihiraukan. Mood kerjanya menghilang tiba-tiba. Ia penasaran, siapa Ayung sebenarnya. Bahkan Ayung sampai mengikuti gaya menulisnya dengan menggunakan huruf kecil di semua tulisan di blognya. Ia merasa Ayung sedang berbicara dengannya. Sejenak ia mengingat peristiwa sepuluh tahun lalu, awal ia bersungguh mematikan rasa yang entah sampai kapan.

“Kamu pikir kenapa aku begitu perhatian selama ini, Syamsa? Kenapa kamu tidak menolak lamaran itu? Kamu pikir.. ah, ah, sudahlah. Oke, selamat. Semoga bahagia selamanya.”

Syamsa tergugu. Air mata tak berhenti keluar dari dua bola matanya. Abi pergi begitu saja, ia sama sekali tak memberi kesempatan pada Syamsa untuk menjelaskan perihal lamaran Bara. Syamsa, bahkan saat itu ia baru menyadari tentang semuanya. Tentang Syamsa, panggilan khusus Abi padanya. Tentang segala kekhawatiran Abi saat ia sakit, tentang segala kebaikan Abi mengantar dan menjemputnya ketika pulang praktikum kemalaman. Hingga suatu pagi ia mendapat surat dari Ahda, sahabat Abi,

Syamsa Kinanthi, maafkan segala salahku. Setelah kau menerima surat ini mungkin aku sudah ada di luar Indonesia. Ayahku menyetujui tentang permintaanku untuk kuliah di luar. Kamu jaga diri baik-baik. Semoga bahagia. Salam untuk calon suamimu.”

 — Abi.

Sejak saat itu Kinan tak pernah mendengar kabar Abi sama sekali. Ia menghilang bagai ditelan bumi. Tak ada lagi yang memanggilnya Syamsa, tak ada lagi lelaki baik hati yang mengantar serta menjemputnya sepulang kuliah. Pernikahannya gagal, entah kenapa tiba-tiba keluarga Bara memutuskan semuanya dua bulan sebelum hari H. Anehnya, tak ada rasa kecewa di hati Kinan sedikit pun.

Perlahan ia menata ulang hidupnya. Lulus kuliah dan bekerja di perusahaan penerbitan yang justru jauh dari jurusannya saat kuliah. Bertahun-tahun ia menenggelamkan diri bekerja tanpa ingin tahu kabar Abi. Pun ia tak ingin buru-buru memikirkan pernikahan meski ayah dan ibu telah berkali-kali mendesaknya.

Jika saja Abi tahu, selama ini Kinan sangat menjaga diri agar Abi tak pernah tahu isi hatinya. Ia hanya menuliskan di blog pribadinya. Pun tentang Abi, Kinan tak pernah menyangka mempunyai rasa yang sama dengannya.

“Cokelat beraroma matahari,” rasa-rasanya dugaannya benar. Matahari adalah syamsa, nama depannya. Sedang cokelat, tentu saja karena ia sangat menyukai cokelat. Kinan limbung, kepalanya terasa berat sekali. Masih dengan linangan air mata ia menatap blog ‘Cokelat Beraroma Matahari’ yang telah membuatnya susah tidur beberapa hari ini. Betapa rasa yang sempat ada di hatinya ternyata belum banyak berubah, tapi ia tak pernah benar-benar berani memastikan apa Abi masih sendiri atau sudah menikah. Maafkan aku, Tuhan. Rasa ini masih ada..

Matanya kembali membaca postingan terbaru di laman Cokelat Beraroma Matahari.

aku mencintaimu, pada indah yang tercipta dan sakit yang terdera

10 tahun ia ada. aku menikmatinya. pada tiap jenak yang membuat hatiku berbunga-bunga dan senyum di bibirku tak berhenti terkembang. pada tiap langkah yang membuatku merasa ringan menatap masa depan. pada tiap rasa takut yang menyelimut akan harapan yang tak diizinkan Tuhan.

 aku mencintaimu. seperti embun mencintai pagi yang tak pernah memarahi matahari meski ia melesapkannya segera sebelum sepenggalah. aku tak pernah berusaha mengurai nyeri, meski ia nyata terasa saat harap itu muncul kembali tanpa disengaja sama sekali. bahkan aku tak pernah berani berkata; aku terluka. karena mencintaimu adalah bahagiaku.

 sebab yang kutahu, “cinta adalah doa kau yang rapal diam-diam untuknya, tanpa sepengetahuannya.” 

Kinan sempurna tergugu. Dadanya sesak menahan segala luapan rasa yang tak ia mengerti. Hujan di luar membuatnya makin menggigil. Air matanya mengalir deras membasahi meja kerja. Maafkan aku Abi.

“Hujanku untukmu, begitupula doaku,” ia berbisik lirih.

 

 

 

 

 

 

**ini adalah cerpen yang dimuat di antologi Nulis Buku 2014 apa 2015 yak, rada lupa. pengen nantang diri yang pemalas ini bikin cerpen a.k.a tulisan panjang aja, meski sebagian besar kalimat dari blog sehingga tinggal bikin alurnya. dan tibatiba merasa alay baca ini lagi :)). kamu jangan ikutan alay, yaa 😛

 

 

hujan deras di bandung, 17.12

12/5/16

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan