manusia-manusia di gerbong kereta 9

d553d657cb8f

 

aku melirik tiket yang ada di genggaman. untung belum terlalu lecek, setidaknya masih bisa terbaca tanggal keberangkatan yang sebenarnya sudah kutahu lebih dari 300 hari yang lalu. untung juga aku masih mengingat kapan terakhir kuletakkan ia. karena jujur saja, aku bahkan sempat lupa pada kereta senja utama yang akan membawaku ke tempat persinggahan nanti. sembarangan saja kuletakkan tiket di pinggiran meja belajar di kamar.

satu hal lagi yang pantas kusyukuri. tempat itu begitu diminati orang, sehingga untuk mendapatkan satu kursi saja, aku harus memesannya jauhjauh hari, berebutan dengan para calon penumpang lainnya. mungkin jika tempat itu sepi dan takbanyak diminati, aku akan santai berleha dan takkunjung mencari tiket serta peta menujunya.

tentu aku rindu senja di sana, tentu aku rindu bertemu dengan senyum orangorang tercinta. meski yang tidak kumengerti sekarang adalah, bagaimana bentuk rindu ini, jika tiket  adalah (masih) satusatunya bekal yang aku siapkan untuk ke sana?

lalu, masihkah kau berani mengaku-ngaku rindu? atau mungkin yang kau rasa justru rindu pada rindu?

sepuluh senja lagi,
pinus30, 26/5/16

 

 

Iklan