manusia-manusia di gerbong kereta –10

 

weheartit-com

weheartit-com

 

kali ini aku memilih bertemu pagi, taklagi senja seperti biasa. meski benang merahnya takdapat kulihat di lengang jalanan kota, tapi udara sejuk masih dapat terhidu dengan utuh.

aku berhenti sejenak di kerumunan pasar pagi, melihat celah jalan untuk meneruskan laju kendaraan. kemudian menyerah dan memilih menikmati aroma ikan, bercampur dengan wewangian yang menguar terlalu dini.

sepagi ini, stasiun sudah sesak. para penumpang ituΒ entah datang pukul berapa. mereka terlihat bahagia, wajahwajah cerah penuh senyum tampak saling sapa. mungkin karena merasa satu daerah, mereka langsung bertukar cerita.

aku celingukan, mencaricari wajah yang kukenal. nihil.

bahkan aku merasa menjadi orang paling aneh dengan setelan baju seadanya. takada yang kubawa selain ransel ringan berisi sepasang baju dan sedikit minuman. aku memang terburu-buru, takada list barang bawaan yang kubawa dalam perjalanan kali ini. semua berjalan begitu saja. seolah tibatiba.

tibatiba sudah harus beli tiket. tibatiba sudah tiba waktunya berangkat. tibatiba? padahal setiap tahun kereta ini membawa kami. bagaimana bisa tibatiba?

kami berdesakan menuju pintu masuk. iya, sudah mendapat nomor kursi, sudah tertulis angka di gerbong berapa. namun tetap saja, semua orang berebut untuk saling mendahului.

aku tergugu. ada yang memanas di pelupuk. bismillahirrahmanirrahim, aku memandang penuh harap ke gerbong bertuliskan ar rayyan.

akankan aku?

 

 

 

 
#ramadhan1
6/6/16, pinus30. after rain

 

Iklan