9 [tentang mimpi]

entah kenapa, aku selalu ngiri melihat anak kosan yang baru pada lulus berangkat kerja. kenapa aku dulu tak terfikir demikian yah? kuliah, apply, kerja. -.-

entah kenapa, dulu aku lebih seneng nulis dan nulis dan nulis freelance. bolak balik pulang rumah. dan menclok sana sini. tapi mungkin begitulah cara Allah memeluk mimpiku. dari kecil aku pengen jadi wartawan, dulu aku mengenalnya dengan istilah jurnalis. seingetku, SD aku udah pengen jadi jurnalis. berangkat dari pikiran sederhana; profesi apa yang tepat bagi orang yang suka nulis? akhirnya mikirnya ya wartawan, wartawan kan kerjanya nulis.

di SD pula, aku seneng banget nulis puisi. sempet punya buku puisi yang hingga sekarang masih ada. kebiasaan itu masih berlanjut hingga SMP. kosa kataku memang termasuk beragam, jika dibanding dengan anak-anak SD seusiaku. kegilaanku pada membaca membuatku kaya bahasa. aku juga suka nonton film barat yang biasa tayang malam di TVRI. belum lagi sandiwara radion yang rajin kudengarkan hampir tiap jam. kecuali jam sekolah tentu. dari sana imajinasiku makin berkembang.

saat yang paling menyenangkan bagiku adalah menunggu Bapak pulang dan langsung memeriksa bawaannya, siapa tahu ada buku atau majalah baru yang di bawanya. dulu aku punya perpustakaan kecil di rumah. isinya hanya buku-buku cerita dan majalah yang suka di bawa bapak dari sekolahnya. sesuatu yang kusebut perpus itu hanya deretan buku yang memanjang di rak lemari atau di lemari kecil –bekas– yang kubersihin sendiri. tapi aku cukup bahagia. ^^

hingga SMP hobi membaca itu masih terpelihara, m eski makin sedikit buku yang kubaca. aku lebih asik bermain dengan teman-teman baruku. tapi hobi nulisku tetep. aku suka ngirimin kuis di majalah, pernah kirim puisi juga –meski gak dimuat– dan sempet ikutan lomba mengarang di sekolah. sebenarnya saat itu aku disuruh ikut lomba baca puisi, mengingat aku kerjaannya nulis puisi. (mana ada kebiasaan nulis puisi selalu sebanding lurus dengan syahdu membacanya -.-?).

aku menolak habis-habisan. dan aku lebih memilih untuk ikut lomba mengarang. fyi, aku selalu punya pikiran aku bakal menang di setiap kompetisi yang ku ikuti. tapi kalo kalah ya udah. ;))

dan saat itu aku memang yakin menang. sempat kuintip karangan temanku kelas sebelah. rangkaian kalimatnya jaauuuh dari yang kubikin waktu itu. –gak sombong siy,– *wong aku juga heran, ko aku bisa begitu dulu -.-*  sekarang makin urdu gini :((

dan benar saja, aku dapet juara 1. maju ke lapangan upaca dan dapet hadiah buku. aaah, senangnyaa ^^

tentang cita-cita jurnalis? masih pengen tentu. tapi ibu ternyata tak mengijinkan anak perempuannya ini menjadi seoprang wartawan yang katanya kerjanya nyerempet2 bahaya. so aku memilih adm negara unpad. masih tetap dengan hobi bacaku dan nulisku. bahkan aku pernah sok-sok an bikin majalah beserta rubrik-rubriknya, ;))

meski temen2ku gak ada yang punya kebiasaan sama, tapi aku cuek aja. meski kata temen2ku suka huek huek kalo baca tulisanku, tapi aku juga cuek aja ;p. aku masih tetep nulis dan nulis. sempet beberapa kali nulis buku juga. belajaran aja siy ini mah ^^

dan qadarullah, sekarang Allah menempatkau bekerja jadi newsroom sebuah majalah. sesuatu yang sungguh sudah aku inginkan sedari kecil. tertera namanya di suatu majalah sebagai redaksinya. atau wawancara seseorang dan kemudian menuliskannya. aah, Allah selalu indah mengenalkan kita pada jalanNya, bukan?

Ia takpernah lalai, pun pada apa yang telah kita pinta. meski kita sendiri lupa pernah memintanya, memohonkannya hadir dalam hidup kita.

kau adalah jawaban dari doa yang bahkan aku lupa pernah memintanya, right? 😉

Rumah Lentera, 12.59

18/6/12