janji
Reblogged from percakapankecil:
“janji ya, kita akan bertetangga di surga? sertakan aku dalam doamu, selalu.” katamu “entah dengan huruf apa aku harus menulis jawabnya.” kata hatiku
pada sebelas
waktu tiba-tiba lumpuh, jeda yang disuguhkannya terasa lama. layaknya hujan yang bertandang malu-malu, ia belumjua beranjak. detak detik purnama menggariskannya dari celurit, sabit, berjingkat lambat hingga berpendar utuh tanpa ragu. tanpa malu.
tanpa ragu, iakah, Ta?
pada sebelas aku penuh berkaca. tentang ribuan jenak yang terlalu tersia. pada jejaknya yang terlanjur tergores di catatan harian Tuhan. pada ripuhnya hari yang bahkan terbata melafadzkan doa paling mantra.
lalu punya apa, aku, kamu, Ta?
semua masih ganjil, maka ia akan tergenapi dengan cahaya doadoa. dengan telimpuh paling riuh di setiap kala istimewa. bukankah masalah dan penyelesaiannya hanya sejarak kening pada sajadah? meski tentunya diiringi dengan gempita langkah yang takgoyah.
hingga kini, hanya ada satu tanyaku pada kamu, Ta. pada sebelas. sudah seberapa pantas?
-eL pada sebelas,-
sederhana saja
“menjadi istimewa itu sederhana, yaitu saat ada yang mengingatmu dalam doa”
(11.1.2012)
aku kangen kamu, Ta
apa kau akan marah, Ta. bila kukatakan baru sekarang aku merindukanmu? amat sangat. sedang kita telah di kenalkan jaaauh sebelum hari ini.
aku percaya, kau juga merindukanku, Ta. di hari kesepuluh tahun ini aku belum bisa menemuimu. apa di hari kesebelasnya kau akan merapal namaku? membaitkan doa-doa untukku. untuk kita?
selamat datang dihari kesebelasku, kuharap doamu takputus untukku.
: aku kangen kamu, Ta.
eL sepuluh januari
senja dan hujan
—
cerita mawar
siapa yang hendak bertanggung jawab, sayang, jika mawar-mawar itu bermekaran bagai belukar? hingga durinya menggores mahkota merahmu sendiri.
siapa yang hendak bertanggung jawab, sayang, saat ada yang tertusuk duri diantara rerimbun hijau dedaun?
siapa yang hendak bertanggung jawab, sayang, jika terus kau tumbuh suburkan ia padahal belum waktuNya.
Bandungpagi, 6.08
Dhila13 Photo Challenge: Inspirasi
memahat tapak, selagi kala masih berjarak,
semoga Ia mampukan langkah kecil ini menuju gerbang yang belum lagi nampak
semoga Ia kekalkan apa yang kita lakukan sebagai sebuah kebaikan
“takdir takkan pernah salah berkisah, bukan?”
(RumahLentera, 12.00)
-Tulisan ini disertakan pada Bukan Kontes Biasa: TASBIH 1433 H di Blog Dhila13-
tepi hujan
aku percaya hujan.
ia bisa melarung bulir dari bilur yang sempat membiru. ah, ya.. bukan pada hujan aku percaya. tapi pada Dzat yang menghadirkannya. Ia jua yang selalu mengilhamkan cinta dan rinduku padamu. dan senja.
senja yang sama, 17.51







